Materi Mata Kuliah Profesi
kependidikan
BAB I
PENGANTAR PROFESI KEPENDIDIKAN
I.1 Beberapa masalah yang
berpengaruh dalam pendidikan
Dewasa ini bangsa Indonesia dilanda berbagai krisis, baik krisis ekonomi,
krisis politik, krisis moral maupun krisis kepercayaaan. Berbagai krisis ini
mengundang banyak gejolak, seperti kaum pekerja yang minta kenaikan upah, para
guru turun ke jalan untuk berdemonstrasi meminta gaji dan fungsional dinaikkan
serta aksi-aksi para mahasiswa yang tak pernah henti berorasi mengkritik
kebijakan pemerintah di jalan-jalan atau di depan kantor pemerintah.
Pada arus global kita berhadapan dengan globalisasi , idiologis politik, budaya
dan sebagainya. Pendidikan yang merupakan proses pencerdasa anak bangsa,
sekarang ini dihadapkan dengan berbagai persoalan, baik ekonomi, budaya maupun
politik yang dipengaruhi oleh arus globalisasi. Itulah sebabnya, seorang guru
yang berkecimpung didunia pendidikan berkewajiban bias memecahkan masalah yang
timbul melaui pendidikan.
I.2. Isu yang berkembang di masyarakat
Disentralisasi. Demokrasi dan otonomi merupakan isu yang amat popular
akhir-akhir ini. Sekarang terjadi perubahan paradigma dalam menata manajemen
pemerintah termasuk didalamnya menata manajemen pendidikan. Didalam manajemen
penidikan kita harus melihat seberapa jauh kekuatan pembuatan kebijaksanaan
ittu tersentralisasi atau terdisentralisasi, berperannya masyarakat dalam
pendidikan berarti memberikan kepada masyarakat untuk mengkontrol pelaksanaan
pemdidikan. Dengan pengontrolan ini maka pendidikan tidak akan dikebiri
prosesnya dalam meningkatkan sumber daya manusia.
I.3. Perubahan Paradigma
Beberapa perubahan paradigma itu adalah:
a. Perubahan paradigma dan orientasi manajemen pemerintah menjadi orientasi
kepasar. Aspirasi masyarakat menjadi perimbangan utama dalam mengatasi masalah
yang timbul.
b. Perubahan dan orientasi manajemen pemerintahan yang otoratarian menjadi
berorientasi pada demokrasi.
c. Perubahan paradigma dari sentralisasi kekuasaan menjadi disentralisasi
kewenangan.
d. Perubahan sistem pemerintahan yang membatasi pada batas dan aturan yang
mengikat suatu Negara yang jelas menjadi tatanan pemerintahan yang cenderung
Boundariless Organization.
I.4. Visi Pendidikan
Visi pendidikan diarahkan untuk menyesuaikan tehadap perubahan paradigm
pendidikan, pendidikan harus mengenali siapa pelanggannya dan di pengenalan ini
pendidikan mengenali apa aspirasi dan kebutuhannya. Setelah itu baru ditentukan
system pendidikan, macam kurikulum dan persyaratan pengajarannya. Visi
pendidikan di masa depan tidak lagi berorientasi pada sentralisasi kekuasaan
melainkan disentralisasi dan memberikan otonomi kepada satuan dibawah atau
kepada daerah. Kita harus bias hidup dalam suasana schooling and working in
democratic state. Ini merupakan visi yan pertama , visi berikutnya yaitu
meletakkan information technology yang merupakan bagian tak terpisahkan dalam
proses pendidikan, berarti mulai tingkat pendidikan rendah sampai perguruan
tinggi merupakan jalur pendidikan , pemahaman, pengenalan, dan pengamalan ilmu
dan teknologi di lembaga di pendidikan.
I.5. Keberhasilan Pendidikan Kita Dewasa Ini
Secara kuantitas kita dapat menyatakan bahwa Indonesia telah mengalami kemajuan
dengan melihat indikator pada kemampuan baca tulis masyarakat yang mencapai
67,24%. Sedangkan keberhasilan dari segi kualitatif pendidikan di Indonesia
belum berhasil membangun karakter bangsa Indonesia yang cerdas dan kreatif.
I.6. Masalah yang perlu diatasi
Dengan memperhatikan berbagai persoalan dalam pendidikan diatas, maka hal yang perlu
diperhatikan adalah:
a. Bagaimana memberdayakan lembaga pendidikan menjadi lembaga human investment,
yaitu bagaimana sebuah lembaga itu menjadi tempat menempa manusia-manusia yang
cerdas, kreatif, dan bertanggung jawab serta berkeahlian, sehingga akan
tercipta generasi-generasi penerus yang tangguh dan kreatif yang bias memajukan
bangsa Indonesia.
b. Hal-hal apakah yang perlu dilakukan agar organisasi penyelenggaraan
pendidikan dapat dilakukan dengan baik?
BAB II
PERUBAHAN PENDIDIKAN UPAYA PENINGKATAN SUMBER DAYA MANUSIA
II.1.Pendidikan sebagai Proses Pembebasan
Manusia bukan terlahir langsung dalam kepribadian modern, bodoh adalah bawa’an
asli manusia tercipta, bahkan Sang pembebas bernama Muhammad yang menjadi
utusan Tuhan sendiri sebelum menerima wahyu adalah ummi (buta huruf), namun
dalam prosesnya manusia dituntut untuk mengetahui, hanya dengan pengetahuanlah
manusia bisa menjalankan fungsi kemanusiaanya, maka tidak salah kalau utusan
Tuhan Nabi Muhammad mewajibkan umatnya berproses dan menceburkan diri dalam
kapasitas pendidikan ketika mulai menyatu dalam kandungan sang ibu hingga
kuburan mau digali.indikasi ini mengisyaratkan bahwasanya manusia sendiri tak
ada batas dalam berproses dan tak akan menemukan titik penghujung sentral
pendidikan selain kematian hingga menggugurkan kewajibannya dalam pendidikan.
Disamping itu manusia juga tidak terbelenggu oleh jarak dalam berproses, baik
dinegara kelahiran atau pergi keluar manca negera, sebagaimana yang digambarkan
Rausulullah dalam haditsnya. carilah ilmu sampai kenegeri cina.
Manusia sendiri pada dasarnya adalah makhluk yang bebas, ia terlahir kedunia
dalam keadaan telanjang, tanpa ada satu ikatanpun yang memasungya. dengan
ketelanjangannya itu menandakan bahwa manusia adalah makhluk yang merdeka. dan bebas
menentukan pilihanya, yang pada akhirnya menuntun manusia itu menjadi diri
sendiri sendiri pada subyektifitas bukan obyektifitas yang hanya memasungnya.
Manusia dibekali kemampuan untuk merefleksikan dirinya sebagai ”ego” dan
merefleksikan apa yang ada dihadapannya sebagai “bukan ego”. Dengan potensi
panca indera dan kelengkapan fisiknya manusia sanggup bergaul dengan dunianya,
hingga menghasilkan hubungan dengan sesamanya sebagai subyek dan, dan dunia
sebagai obyek.
Bagi sebagian besar manusia (mahasiswa), pendidikan dimaknai degan ijazah,
perstise, dan kerja, padahal dari itu semua ada yang lebih penting bahwa
pendidikan adalah alat perlawanan, karena pada hakekatnya pendidikan adalah
“membebaskan”. Membebaskan dari penindasan kebodohan, baik yang ada pada diri
manusia atau kebodohan orang lain. Pendidikan tidak menahan mahasiswa untuk
mencari ijazah, tapi ijazah sering memaksa mahasiswa untuk bertahan dibangku
kuliah, meskipun bangku kuliah tidak jarang memberatkan mahasiswa.
Sebagai mana yang dikatakan Paulo Freire dalam salah stu bukunya tentang
pendidikan. ”Pada dasarnya manusia terbagi dua golongan, tertindas dan golongan
penindas. Sebagai golongan penindas harus dilakukakan perubahan mendasar,
karena kaum penindas sudah barang tentu dan mustahil memberikan pembebasan, dan
mereka selalu menyiapkan pembenaran-pembenaran atas status quo. Kaum penindas
paling jauh hanya akan memperlunaknya dengan konsensi-konsesi kebebasan sedikit
dan karitatif. Karenanya, kaum tertindas harus mengubah diri dari manusia yang
berada bagi keuntungan sipenindas (being for others) menjadi subjek-subjek yang
bereksistensi bagi diri sendiri ( being for themselves)”.
Sedangkan menurut Ali Maksum & Luluk Yunan Ruhendi pendidikan yang
membebaskan adalah p upaya untuk memperoleh pengetahuan dan menjadi proses
transformasi yang diuji dalam kehidupan nyata(Paradigma Pendidikan universal di
era modern dan post modern, hlm. 178)
Oleh karenanya, pendidikan bagi kaum tertindas haruslah dirancang sebagai
perlawanan yang membebaskan mereka. Metodologi mengenai hal ini dimaksudakan
untuk mengelola bagaimana penindasan dapat berpartisipasi langsung dalam
pendidikan seperti ini. Metode pendidikannya bersifat aktif dan bersifat pasif
dan secara tidak langsung merefleksikan apa yang terjadi dalam dunia nyata. Ini
dikarenakan, manusia adalah makhluk eksistensial yang ada dalam dan bersama
dunia. Interaksi dengan dunia adalah wadah atau tempat perenungan manusia. ini
lah yang oleh Paolo Freire sebagai proses pembebasan. Lalu yang jadi pertanyaan
sudahkah pendidikan kita menjadi alat pembebas?
II.2. Pendidikan sebagai Proses Pencerdasan
Pendidikan masih dirasakan sebaai proses pembodohan baik dilingkungan sekolah
maupun kehidupan masyarakat.
Pemutarbalikan fakta yang dilegitimasi melaui lembaga-lembaga formal adalah
contoh yang paling riil.
Pembodohan di sekolah terjadi dari praktik instruksional yang sama, yakni dari
interaksi verbal vertical.
II.3.Pendidikan menjunjung tinggi hak-hak anak
Sekarang ini anak-anak sekolah dituntut untuk memperoleh ranking atas oleh para
orang tua dan mengabaikan proses belajarnya. Hal ini tentunya akan berpengaruh
pada kreatifitas dan kecerdasan anak, anak hanya akan terfokus pada nilai,
nilai dan nilai bukan pada proses belajar yang mengasah kreatifitas dan kecerdasan
mereka. Oleh karena itu, pendidikan seharusnya meluruskan persepsi yang salah
ini kepada para orangtua agar hak-hak anak tidak terampas dan bias dengan
leluasa mengembangkan potensi yang ada didiri mereka dengan optimal.
II.4. Pendidikan menghasilkan Tindak Perdamaian
Banyaknya pelajar yang terlibat tawuran, kasus kekerasan antara guru dan murid,
bias menjadi bukti bahwa pendidikan telah menghasilkan tindak kekerasan.
Hal ini muncul karena banyak factor, diantaranya karena lingkungan keluarga
yang menyelesaikan persoalan dengan kekerasan, kemasan hiburan(sinetron, film,
permainan) yang menonjolkan kekerasan.
Pendidikan sebagai alat pemberdayaan , seharusnya bias mengatasi hal-hal
seperti ini. Hal ini bias dilakukan bila di sekolah diajarkan dan diterapkan bagaimana
menyelesaikan permasalahan dengan damai dan kreatif, sehingga anak bias
mengaplikasikannya di masyarakat.
II.5. Pendidikan Anak Berwawasan Intregatif
Secara ealita mata pelajaran masih terkesan terkotak-kotak, kurikulu masih
belum mampu menjadikan anak memiliki wawasan integrative, yaitu menjadi manusia
terdidik yang berilmu dan berpengetahuan, yang sekaligus sebagai manusia
beriman.
Integrasi dari keseluruhan itu seharusnya menjadikan pembelajaran sebagai
manusia yang utuh. Di mana pun, kapan pun, ia dapat menampilkan diri sebagai
sosok yang menampilkan satuan psikofisik, bukan sebagian-sebagian. Di mana pun,
kapan pun, ia membawa kesatuan dari manusia terdidik, sebagai manusia berilmu
dan berpengetahuan, serta sebagai manusia beragama. Ia tidak hanya anti
terhadap orang lain yang bertindak kejahatan, tetapi walaupun ia memiliki
kesempatan untuk itu, ia tidak akan berbuat kejahatan tersebut.
II.6. Pendidikan Membangun Watak Persatuan
Pendidikan dirasakan belum cukup member pengalaman kepada para siswa tentang
menghargai perbedaan dan cara mengatasinya.
Hal ini dikarenakan di sekolah siswa kurang diajarkan cara menghargai, belajar
masih didominasi oleh pengajaran kontekstual yang tidak mampu membangun
kesadaran diri maupun sikap.
Belajar kelompok adalah salah satu cara untuk memberi pengalaman kepada siswa
tentang bagaimana memaknai perbedaan.
Ada beberapa mata pelajaran yang bias memunculkan rasa persatuan yaitu sejarah
dan geografi.
Dengan sejarah, siswa akan melihat bagaimana karakteristik bangsanya dan betapa
sungguh beragamnya sikap dan budayanya, hal ini tentunya bisa tercapai bila
sejarah bukan sekedar pelajaran yang menjadi beban hapalan.
Begitu juga dengan geografi, siswa akan lebih mencintai tanah airnya karena
disini ia belajar karakteristik tanah airnya yang sangat mempesona ini.
II.7. Pendidikan Menghasilkan Manusia Demokratis
Saat ini pendidikan masih sangat otoriter, baik manajemen, interaksi atau
transaksi, proses, kedudukan maupun substansinya. Tentu saja ini tidak akan
menghasilkan manusia yang demokratis.
Di sekolah, pembelajaran masih berpusat pada guru, siswa belum menjadi sumber
belajar, padahal apabila guru dan siswa mampu menghadapi persoalan secara
bersama tentu akan lebih menghasilkan manusia yang demokratis.
II.8. Pendidikan Menghasilkan Manusia yang Peduli Lingkungan
Untuk bisa menghasilkan manusia yang peduli lingkungan, maka pembelajaran
harusnya tidak berdasarkan pada tekstual semata tetapi bias dengan menggunakan
pengalaman siswa sebagai sumber belajar, hal ini tentu akan lebih mendekatkan
siswa dengan lingkungan dan mencintainya.
II.9. Sekolah Bukan Satu-satunya Instrumen pendidikan
Pemerintah memang mengatur pendidikan dari taman kanak-kanak sampai perguruan
tinngi, tetapi ini tidak menjadi alas an untuk menumpukan muatan pendidikan
pada sekolah saja.
Ada instrument pendidikan lain selain sekolah, yang tentunya tidak kalah
pentingnya, yaitu pendidikan keluarga dan lingkungan.
Pendidikan keluarga mengambil peran sangat penting dalam pendidikan seorang
anak, karena seorang anak akan lebih banyak menghabiskan waktunya dirumah
daripada di sekolah, sehingga peran orang tua disini sangat diperlukan. Orang
tua hendaknya bisa menjadi contoh dan teladan yang baik bagi anak-anaknya.
Selainitu, limgkungan juga sangat penting, hendaknya anak ditempatkan pada
lingkungan bermain yang baik dan mendukung sekolahnya.
BAB III
MEREKONSTRUKSI MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN MELALUI PENGUBAHAN SISTEM PENGELOLAAN
PENDIDIKAN DI SEKOLAH
III.1. Misi Pendidikan Persekolahan
Misi pendidikan Persekolahan adalah:
a. Pendidikan Kepribadian, yaitu sekolah bekerja sama dengan dengan keluarga
dan lembaga agama.
b. Pendidikan Kewarganegaraan, yaitu sekolah bekerja sama dengan
lembaga-lembaga pemerintah dan masyarakat.
c. Pendidikan Intelektual, yaitu kekhususan sekolah yang dilakukan berantai
dari TK sampai pegururan tinggi.
d.
III.2. Sekolah sebagai Sarana Rekonstruksi Masyarakat
Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang berada ditengah-tengah masyarakat hanya
akan berhasil apabila ada kerjasama dan dukungan dari masyarakat dan keluarga.
Sekolah merupakan suatu kesatuan dari pribadi-pribadi yang berinteraksi. Sistem
sekolah akan berhasil apabila ada interaksi sosial , yaitu:
a. Memiliki suatu penghuni yang tetap
b. Memiliki struktur politik atau kebijakan umum tentang kehidupan sekolah
c. Memiliki inti jaringan hubungan social
d. Mengembangkan perasaan atau semangat kebersamaan sekolah
e. Memiliki suatu jenis kebudayaan atau subkebudayaan tersendiri
Peranan sekolah dalam merekonstruksi masyarakat berarti sekolah mengembangkan
kebudayaan. Ada tujuh system nilai atau kebudayaan yang secara universal
dikembangkan yaitu; bahasa, system teknologi, system pencaharian hidup dan
ekonomi, organisosial, system pengetahuan, religi dan kesenian.
III.3. Pengaruh Eksternal dan Internal dalam Pengelolaan
Pendidikan
Pengaruh eksternal adalah adanya perkembangan dunia yang menglogal yang berlaku
dalam dasawarsa ini. Sedangkan pengaruh internal adalah pengaruh kebudayaan dan
kehidupan masyarakat bangsa Indonesia . pengaruh tersebut berpengaruh pada
pembentukan watak dan kreatifitas anak bangsa.. menurut Ki Hajar Dewantara,
dalam kondisi seperti ini sebaiknya diterapkan strategi”Trikon” dalam
pengelolaan pendidikan, yaitu:
a. Konvergen, maksudnya agar pendidikan di Indonesia dapat berkembang dengan
baik, dapat setara dengan kualitas pendidikan Negara-negara maju, maka
sebaiknya ada adopsi nilai yang dipinjam dari budaya barat , namun harus ada
filter penggunaannya terlebih dahulu.
b. Konsentris, maksudnya bahwa untuk mengembangkan pendidikan Indonesia
haruslah beryolak dari kebudayaan yang mengindonesia, sehingga nilai-nilai
luhur bangsa tetap tertanam dalam generasi bangsa
c. Kontinuitas, maksudnya bahwa pendidikan di Indonesia haruslah dilakukan
secara terus menerus.
III.4. Sistem Disentralisasi Pendidikan
Desentralisasi merupakan lawan kata dari sentralisasi. Adapun sentralisasi
dapat didefinisikan sebagai pemusatan seluruh wewenang kepada sejumlah kecil
manajer atau yang berada di posisi puncak pada suatu struktur organisasi.
Sedangkan desentralisasi adalah pendelegasian wewenang dalam membuat keputusan
dan kebijakan kepada manajer atau orang-orang yang berada pada level bawah
dalam suatu struktur organisasi. Sistem sentralisasi banyak digunakan pada
pemerintahan lama di Indonesia sebelum adanya otonomi daerah. Setelah adanya
Undang-Undang yang mengatur tentang otonomi daerah, banyak perusahaan atau
organisasi yang memilih serta menerapkan sistem desentralisasi karena dinilai
dapat memperbaiki serta meningkatkan efektifitas dan produktifitas suatu
organisasi.
Di antara kelebihan sistem desentralisasi ini adalah sebagian besar keputusan
dan kebijakan yang berada di daerah dapat diputuskan di daerah tanpa adanya
campur tangan dari pemerintahan di pusat. Namun kekurangan dari sistem
desentralisasi pada otonomi khusus untuk daerah adalah euforia yang berlebihan
di mana wewenang tersebut hanya mementingkat kepentingan golongan dan kelompok
serta digunakan untuk mengeruk keuntungan pribadi atau oknum. Hal tersebut
terjadi karena sulit untuk dikontrol oleh pemerintah di tingkat pusat.
Sistem desentralisasi juga berlaku di dunia pendidikan. Desentralisasi
pendidikan dapat didefinisikan sebagai upaya untuk mendelegasikan sebagian atau
seluruh wewenang di bidang pendidikan yang seharusnya dilakukan oleh unit atau
pejabat pusat kepada unit atau pejabat di bawahnya, atau dari pemerintah pusat
kepada pemerintah daerah, atau dari pemerintah kepada masyarakat. Salah satu
wujud dari desentralisasi ialah terlaksananya proses otonomi dalam
penyelenggaraan pendidikan.
Dengan adanya desentralisasi pendidikan, maka segala hal yang berhubungan
dengan manajemen pendidikan dapat dikelola dan dilaksanakan oleh tingkat daerah
sampai kepada masyarakat. Bila dirinci, kewenangan di bidang pendidikan ini
dapat mencakup mulai dari kewenangan merumuskan atau membuat kebijakan nasional
di bidang pendidikan, melaksanakan kebijaksanaan nasional, dan mengevaluasi
atau memonitor kebijaksanaan nasional tersebut. Meski begitu, tidak seluruh
kewenangan tersebut dapat didesentralisasikan. Kewenangan perumusan atau
pembuatan kebijaksanaan nasional mengenai pendidikan yang meliputi kurikulum,
persyaratan pokok tentang jenjang pendidikan, taksonomi ilmu yang dikembangkan
dan diajarkan dalam jenjang pendidikan, persyaratan pembukaan program baru,
persyaratan tentang guru pendidik di setiap jenjang pendidikan, dan
kegiatan-kegiatan strategis lainnya yang dipandang lebih efektif, efisien, dan
tepat jika tidak didesentralisasikan barangkali masih dilakukan dan diperlukan
sentralisasi. Sedangkan kewenangan implementasi dilaksanakan oleh pemerintah
daerah atau masyarakat. Dalam hal-hal tertentu yang spesifikasinya memerlukan
penanganan khusus, pemerintah pusat masih berwenang melaksanakan sendiri.
Demikian pula hal-hal yang bertalian dengan evaluasi kebijaksanaan nasional
dilakukan oleh pemerintah pusat dan bisa pula diserahkan atau
didesentralisasikan ke unit bawah, di daerah atau kepada masyarakat. Demikian
juga kewenangan pembuatan kebijaksanaan dan yang berdimensi daerah atau lokal
serta pelaksanaan dan evaluasinya tidak perlu lagi diintervensi dan dilakukan
pusat, melainkan bisa secara didesentralisasikan.
Desentralisasi pendidikan berusaha untuk mengurangi campur tangan atau
intervensi pejabat atau unit pusat terhadap persoalan-persoalan pendidikan yang
sepatutnya bisa diputus dan dilaksanakan oleh unit di tataran bawah atau
pemerintah daerah, atau masyarakat. Dengan demikian, diharapkan bisa
memberdayakan peran unit di bawah atau peran rakyat dan masyarakat daerah.
Secara konseptual, terdapat dua jenis desentralisasi pendidikan, yaitu:
desentralisasi kewenangan di sektor pendidikan dalam hal kebijakan pendidikan
dan aspek pendanaannya dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah (propinsi dan
distrik);
desentralisasi pendidikan dengan fokus pada pemberian kewenangan yang lebih
besar di tingkat sekolah.
Konsep desentralisasi pendidikan yang pertama terutama berkaitan dengan otonomi
daerah dan desentralisasi penyelenggaraan pemerintahan dari pusat ke daerah,
sedangkan konsep desentralisasi pendidikan yang memfokuskan pada pemberian
kewenangan yang lebih besar pada tingkat sekolah dilakukan dengan motivasi
untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Adapun tujuan dan orientasi dari desentralisasi pendidikan sangat bervariasi
berdasarkan pengalaman desentralisasi pendidikan yang dilakukan di beberapa
negara Amerika Latin, di Amerika Serikat dan Eropa. Jika yang menjadi tujuan
adalah pemberian kewenangan di sektor pendidikan yang lebih besar kepada
pemerintah daerah, maka fokus desentralisasi pendidikan yang dilakukan adalah
pada pelimpahan kewenangan yang lebih besar kepada pemerintah lokal atau kepada
Dewan Sekolah. Implisit ke dalam strategi desentralisi pendidikan yang seperti
ini adalah target untuk mencapai efisiensi dalam penggunaan sumber daya (school
resources; dana pendidikan yang berasal yang pemerintah dan masyarakat).
Di lain pihak, jika yang menjadi tujuan desentralisasi pendidikan adalah
peningkatan kualitas proses belajar mengajar dan kualitas dari hasil proses
belajar mengajar tersebut, maka desentralisasi pendidikan lebih difokuskan pada
reformasi proses belajar-mengajar. Partisipasi orang tua dalam proses belajar
mengajar dianggap merupakan salah satu faktor yang paling menentukan.
Dalam kenyataannya, desentralisasi pendidikan yang dilakukan di banyak Negara
merupakan bagian dari proses reformasi pendidikan secara keseluruhan dan tidak
sekedar merupakan bagian dari proses otonomi daerah dan desentralisasi fiskal.
Desentralisasi pendidikan akan meliputi suatu proses pemberian kewenangan yang
lebih luas di bidang kebijakan pendidikan dan aspek pendanaannya dari
pemerintah pusat ke pemerintah lokal dan pada saat yang bersamaan kewenangan
yang lebih besar juga diberikan pada tingkat sekolah.
III.5. Program Kegiatan yang perlu dikedepankan
Untuk memenuhi kebutuhan zaman, dunia pendidikan selayaknya juga membutuhkan
reformasi, yaitu bisa dengan memperhatikan hal-hal berikut ini:
a. Perlu disadari bahwa setiap orang adalah pribadi yang unik dan mempunyai
bakat yang berbeda dengan yang lainnya. Apabila tidak mengakui hal ini dan lupa
akan betapa pentingnya system pendidikan sehingga telah meningkatnya jumlah
mereka yang putus sekolah karena bakatnya tidak tersalurkan.
b. Pendidikan tidak dimulai selepas sekolah menengah, yaitu pada tingkat
universiats. Prestasi teoritis(universitas) dan praktis(kejuruan), kerja manual
dan kerja otak, seharusnya sama-sama memperoleh penghargaan seperti ijazah yang
diberikan, terbukanya kesempatan kerja pendidikan serta penghargaan masyarakat
bagi kedua jenis pendidikan tersebut.
c. Perlunya sebuah system penilaian yang mencerminkan prestasi murid dengan
berbagai kelebihan dan kekurangannya, tidak sekedar angka-angka yang mengklaim
secara abstrak tentang mutu peserta didik.
d. Perlu disadari bahwa system pendidikan tidak bebas nilai. Berbagai pelajaran
sudah sarat nilai. Begitu juga dengan perilaku guru sebagai panutan.
e. Sekolah bukanlah semacam ‘Bengkel reparasi” bagi semua kerusakan masyarakat.
Orang tua lah yang lebih berperan. Sekolah hanya berperan sebatas ikut membantu
orang tua dalam pendidikan anak-anaknya.
f. Perlu dikoreksi keyakinan bahwa isi pendidikan bisa diatur lewat birokrasi
dan sedapat mungkin harus diseragamkan.
g. Tidaklah tepat bahwa lembaga pendidikan terbaik , selalu milik Negara.
Adanya persaingan antara lembaga pendidikan dalam hal mutu dan konsep, ikut
memperbaiki system pendidikan nasional.
h. System pendidikan, sebaiknya berorientasi pada nilai(wert oriented).
Pendidikan tidak boleh terbatas pada sekadar transfer pengetahuan dan keahlian
fungsional. Nilai-nilai yang banyak didengungkan namun jarang dihayati dan
dipraktekkan dalam kehidupan seperti nilai kejujuran, kerja keras,
kesederhanaan, disiplin, tepat waktu, dan terutama kebersamaan sebagai bangsa.
Nilai-nilai ini perlu ditekankan dalam kegiatan belajar mengajar.
i. System pendidikan sebaiknya terkait dengan dunia praktis. Akan tetapi in
bukan berarti melulu berbicara tentang “materilisasi” pendidikan yang
mengedepankan konsep “siap pakai” bagi perekonomian.
j. Sistem pendidikan sebaiknya tetap eragam.
k. Diperlukan sebuah system pendidikan yang memberikan ruang bagi anak didik
untuk bersaing dan berkreasi secara fair. Fair juga berarti memberikan beasiswa
dan bantuab ekstra bagi mereka yang berasal dari lapis social bawah, sambil
tetap memberikan penghargaan bagi siapa saja yang berprestasi.
l. Dibutuhksn sebuah system pendidikan yang efisien dalam pengelolaan waktu.
m. System pendidikan sebaiknya bersifat internasional. Dalam hal ini dibuka
kesempatan lebar bagi siswa dan mahasiswa asing untuk belajar di Indonesia.
BAB IV
TANTANGAN GURU DALAM PEMBELAJARAN
IV.1. Kegiatan Guru Dalam Pembelajaran
Mengutip pendapat Prof. Dr. Made Pidarta, dalam bukunya “Landasan
Kependidikan”, pendidik dapat diartikan secara luas dan sempit. Secara luas
(universal), Pidarta menyebut pendidik sebagai semua orang yang mempunyai
kewajiban mendidik anak, sedangkan dalam arti sempit (spesifik), pendidika
dikatakan sebagai orang-orang yang sengaja dipersiapkan menjadi guru atau
dosen. Dengan demikian, guru yang sudah dicetuskan sebagai tenaga pendidik yang
khusus, diharapkan memiliki profesionalitas dalam memberikan pendidikan kepada
peserta didik. Maksudnya adalah guru harus mampu memberikan pembelajaran kepada
peserta didik dengan sempurna, sesuai jabatan yang dimilikinya.
Menurut Uno, dalam tinjauan bab yang dilakukan di sini, banyak sekali kegiatan
yang dapat dipilih guru dalam menyampaikan pembelajaran. Sayangnya, tidak ada
rumus sederhana untuk mencocokkan kegiatan dengan sasaran. Ada yang dianggap
baik untuk seorang pengajar atau sekelompok siswa, bisa saja tidak memuaskan
dalam situasi lain. Karenanya, Uno mengatakan perlu adanya persiapan landasan
bagi pengambilan putusan secara memuaskan tentang metode pengajaran dan
kegiatan belajar yang efektif. Beberapa pola pembelajaran efektif tersebut,
kata dia, dapat dilakukan dengan pengembangan metode-metode mengajar dan
kegiatan belajaran yang sudah umum dilakukan, misalkan metode ceramah,
berbicara dengan formal, menulis di papan tulis, memperagakan, menggunakan
bahan pandang dengar, mempersiapkan lembar kerja siswa, menulis laporan
praktikum, dan barangkali menonton film serta menggunakan bahan pandang dengar
yang lain.
Metode-metode tersebut tidak dapat digunakan dengan sembarangan ketika
merencakan program pengajaran. Ada beberapa alasan dikemukan Uno. Pertama, dari
pengetahuan tentang gaya belajar, baik metode kelompok maupun metode mandiri
harus digunakan. Ada siswa dapat belajara mandiri, tetapi ada juga sejumlah
siswa lebih senang belajar dalam suasana dan situasi pengajaran yang beraturan
dan terpimpin. Kedua, kondisi adan asas belajar menyebabkan kita tangggap akan
perlunya memilih metode yang memberi peluang untuk peran serta yang aktif dari
pihak siswa dalam segala kegiatan belajar. Ketiga, jika kita siap menggunakan teknologi
pengajaran yang baru (TV, komputer, dan lain-lain), penakaran biasanya
diberikan pada penyajia kelompok atau pada kegiatan belajar mandiri. Kedua
jenis penyajian ini tidak memberikan kesempatan interaksi antarguru-siswa
secara tatap muka. Keempat, ada persoalan dalam keefesienan menggunakan waktu
guru dan siswa, sarana, serta peralatan. Untuk tujuan tertentu mungkin lebih
efesien apabila guru menyajika informasi kepada seluruh kelas secara serempak
(dengan jumlah siswa berapa saja) daripada menguasai siswa mempelajari bahan
secara mandiri.
Menurut Uno, secara kesuluruhan, metode penyajian kelompok dan belajar mandiri
paling berhasil mencapai sasaran dalam ranah afektif dan psikomotor. Lebih
jauh, ia menjelaskan, cara terbaik dan efektif dalam mencapai sasaran afektif
adalah melalui kerja kelompok.
IV.2. Kondisi dan Asas untuk belajar yang berhasil
Dalam buku “Profesi Kependidikan” pada Bab 5, Uno menyebutkan pengajaran yang
efektif ditandai oleh berlangsungnya proses belajar. Ia menawarkan beberapa kondisi
dan asas belajar yang penting dan dianggap bermanfaat. Kondisi dan asas
tersebut yakni:
• persiapan sebelum mengajar, siswa harus lulus atau menguasai materi
sebelumnya sehingga materi selanjutnya dapat dengan dengan mudah diajarkan.
• sasaran belajar,
• susunan bahan ajar;
• perbedaan individu;
• motivasi;
• sumber pengajaran;
• keikutsertaan;
• balikan;
• penguatan;
• latihan pengulangan;
• urutan kegiatan;
• penerapan;
• sikap mengajar;
• penyajian di depan kelas.
IV.3. Metode Penyajian
a. Keunggulan Metode Penyajian
o ceramah atau format penyajian lainnya yang telah dikenal dan diterima secara
konvensional, baik dari kalangan pengajar maupun siswa. Metode ini merupakan
metode utama dan kebanyakan digunakan oleh pengajar;
o pada umumnya diperlukan upaya dan pemikiran, minimal untuk merencanakan
penyajian ceramah, karena pengajar sudah mengenal dan menggunakan metode
penyajian model ini;
o ada beberapa pengajar yang merasa bahwa untuk mempertahankan status mereka
atau menambah wibawa di mata siswa, mereka berbicara di depan kelas;
o dari segi tujuan pembelajaran, waktu dapat dihemat karena dalam jangak waktu
tertentu lebih banyak informasi dapat disajikan;
o sejumlah besar siswa dapat dilayani dalam waktu yang sama, yang jadi pembatas
hanyalah ukuran ruangan;
o jika diperlukan, penyajian dapat diubah dengan penyajian bahan ajar tertentu
atau menambahkan bahan baru sebelum, bahkan ketika pengajar menyajikan bahan
ajar; dan
o cara ini layak diterapkan sebagai metode komunikasi apabila informasi yang
akan disampaikan mengharuskan sering terjadinya perubahan dan pemutakhiran.
b. Kelemahan Metode Penyajian
o siswa dibatasi keikutsertaannya, mereka hanya menonton, mendengar, mencatat,
dan hanya sedikit atau sama sekali tidak kesempatan bertukat pendapat dengan
pengajar;
o adanya keharusan bagi pengajar untuk menyajika bahan ajarnya dengan cara
menarik, bergairah, dan penuh tantangan, agar siswa tetap tertuju pada
penyajian pengajar;
o ketika guru memberikan ceramah atau memperagakan sesuatu kepada siswa, diandaikan
siswa memperoleh pengertian yang sama, tingkat pemahaman yang sam, dan pada
waktu yang sama pula;
o apabila dizinkan bertanya, pengajaran akan berhenti dan beberapa siswa
terpaksa menunggu sampai pertanyaan itu terjawab sebelum dapat mengikuti penyajian
selanjutnya;
o pengajar sulit mendapat balikan dari siswa sehubungan kesalahan dan kesulitan
yang dihadapi siswa selama penyajian;
o terdapat bukti bahwa bahan penyajian lisan saja tanpa disertai keikutsertaan
siswa secara terencana, hanya dapat diingat dalam jangka waktu pendek; dan
o penyajian bukanlah metode yang dapat diterapkan untuk mengajarkan
keterampilan psikomotor dan sasaran dalam ranah afektif hanya terpengaruh
sedikit sekali.
c. Penerapan
o Sebagai pendahuluan , ikhtisar, atau pengarahan pokok bahasan baru.
o Bertujuan untuk member semangat atau membangkitkan tujuan untuk mempelajari
sebuah bahan ajar atau pokok bahasan.
o Untuk menyampaikan informasi penting atau informasi mendasar sebagai latar
belakang umum atau persiapan yang diperlukan yang tidak mudah diterima sebelum
siswa mengikuti kegiatan kelompok kecil atau kegiatan perseorangan.
o Untuk memperkenalkan perkembangan mutakhir dalam suatau bidang, tertutama
apabila waktu persiapan terbatas.
o Sebagai narasumber
o Untuk member kesempatan kepada siswa menyajikan laporan didepan kelas
o Sebagai ikhtisar atau rangkuman
d. Rencana Keikutsertaan
Proses belajar yang baik akan berlangsung apabila siswa terlibat secara aktif.
Karena itu, perlu direncanakan kegiatan yang mengikutsertakan siswa pada waktu
menggunakan format penyajian.
Keikutsertaan dibagi kedalam tiga jenis yaitu:
o Interaktif aktif dengan pengajar
o Kerja ditempat
o Kegiatan berpikir lain
IV.4. Belajar mandiri
Metode belajar yang sesuai kecepatan sendiri juga disebut belajar mandiri,
pengajaran sendiri, atau belajr dengan mengarahkan diri sendiri. Cirri-ciri
belajar mandiri buat siswa adalah tanggung jawab sendiri, sesuai dengan
keecepatan sendiri dan belajar yang berhasil.
a. Ciri
• Kegiatan untuk siswa dikembangkan secara cermat dan rinci sehingga pengjaran
dapat berlangsung dengan baik manakala bahan disusun menjadi langkah-langkah
yang terpisah dan kecil.
• Kegiatan dan sumber pengajaran dipilih dengan hati-hati dan memerhatikan
sasaran pengjaran yang dipersyaratkan.
• Penguasaan siswa terhadap setiap langkah harus diperiksa sebelum ia
melanjutkan ke langkah berikutnya.
• Siswa kemudian harus segera menerima kepastian (balikan) tentang kebenaran
jawaban atau upaya lainnya.
• Apabila muncul kesulitan, siswa mungkin mempelajari lagi atau meminta bantuan
pengajar.
b. Jenis Sasaran pengajaran yang cocok:
• Mempelajari informasi nyata
• Menguasai konsep dan asas
• Menerapkan informasi, konsep dan asas
• Mengembangkan keterampilan dasar memcahkan masalah
• Mengembangkan keterampilan psikomotor
c. Keunggulan
Ada beberapa keunggulan menurut Uno dalam belajar mandiri pada siswa. Di antara
keungggulan-keunggulan itu disebutkan bahwa program mandiri sengaja dirancang
dengan cermat sehingga dapat memanfaatkan lebih banyak asas belajar. Pola ini
juga disebutkan dapat memberi kesempatan, baik kepada siswa yang lamban maupun
yang cepat untuk menyelesaikan pelajaran sesuai dengan tingkat kemampuan
masing-masing. Keunggulan lainnya belajar mandiri dikatakan Uno dapat
menyebabkan perhatian tercurah lebih banyak kepada siswa perseorangan dan
memberi kesempatan yang lebih luas untuk melangsungkan interaksi antarsiswa.
d. Kelemahan
Kelemahan belajar mandiri adalah memungkinkan kurang terjadi interaksi antara
pengajar dengan siswa dan antara sesama siswa. Apabila dipakai jalur dengan
langkah tetap, kemungkinan belajar mandiri akan membosankan dan tidak menarik.
Kelemahan lainnya terdapat pada metode yang sering menuntut kerja sama dan
perancanaan tim yang rinci di antara staf pengajar yang terlibat.
e. Tata Cara
Cara yang lebih baik untuk merencanakan belajar mandiri adalah memulai dengan
bermacam-macam bahan agar mencapai sasaran dan kemudian merencanakn lebih dari
satu urutan pengajaran untuk memberikan peluang kepada perbedaan diantara siswa
secara perseorangan. Setiap orang berbeda dalam gaya belajar. Beberapa siswa
merasa paling bermanfaat apabila mereka belajar dari bahan visual, sementara
yang lain dari media cetak, atau dengan pengalaman sendiri.
BAB V
PROFIL, PROFESIONALITAS DAN PROFESIONALISASI TENAGA KEPENDIDIKAN GURU
V.1. PROFIL GURU
a. Arti profil
Kata profil berasal dari bahasa Italia, profilo dan profilare, yang berarti
gambaran garis besar. Arti kata profil antara lain :
o Gambaran tampang atau wajah seseorang yang dilihat dari samping. Arti ini
dilihat dari dunia seni.
o Sekumpulan data yang menjelaskan sesuatu dalam bentuk grafik atau tabel. Arti
ini dilihat dari bidang statistik.
o Dalam bahasa Inggris low profile (rendah hati)
o Dalam bidang geografi, berarti penampang vertikal memperlihatkan ciri-ciri
fisik.
o Dalam bidang komunikasi dan bahasa, berarti biografi atau riwayat hidup
singkat seseorang. Arti inilah yang digunakan dalam ”Membaca Profil Tokoh”.
b. Profil Guru dalam konteks historis
Jabatan guru merupakan pelayanan yang luhur (noblest vocation) : tidak
membutuhkan sanjungan dan imbalan.
Pada zaman Yunani kuno guru disebut : paedogogas (pelayan arah) : guru adalah
abdi manusia (gagos humaniora).
Menurut Liberman : kaum ‘sofis’ mula-mula yang menjadi guru di masyarakat
yunani pada abad pertengahan yang menjadi guru adalah orang2 yang berperan
dibidang keagamaan (tokoh agama / rabbi). Pada zaman reinaisens ; IPTEK maju
pesat, pendidikan berkembang secara fundamental. Buku2 dan alat pengetahuan
menjadi sumber pengetahuan.
c. Profil guru dalam Konteks Budaya(guru desa, guru kota,guru daerah industry).
Guru Desa, dalam hal ini seorang guru sangat dihormati, dianggap tahu segala
hal, disiplin, dan harus berperilaku yang sopan dan santun. Sebagai orang yang
dihormati, segala tingkah laku guru akan ditiru dan menjadi panutan, ada banyak
mata yang mengawasi segala tindakannya.
Guru kota, disini guru kurang dihormati, tingkat disiplinnya juga berkurang,
guru hanya mengajar, mentransfer ilmu kepada peserta didik.
Sedangkan guru di daerah industry, pekerjaan mereka terjamin, seorang guru
dituntut untuk mengembangkan pengetahuan , guru dan siswa bersaing.
d. Profil Guru dalam Konteks Profesional
Kualifikasi Personal.v
Ada berbagai ungkapan untuk melukiskan kualifikasi personal guru diantaranya :
• Guru yang baik Baik disini dalam artian mempunyai sifat moral yang baik
seperti ; jujur, setia, sabar, betanggung jawab, tegas, iuwes, ramah,
konsisten, berinisiatif dan berwibawa. Jadi guru yang baik itu bila dilengkapi
oleh sifat – sifat yang disebutkan di atas.
• Guru yang berhasil, Seorang guru dikatakan berhasil apabila ia di dalam
mengajar dapat menunjukan kemampuannya sehingga tujuan – tujuan yang telah
ditentukan dapat dicapai oleh peserta didik.
• Guru yang efektif. Yang dimaksud dengan guru yang efektif yaitu apabila ia
dapat mendayagunakan waktu dan tenaga yang sedikit tetapi dapat mencapai hasil
yang banyak. Berarti guru yang pandai menggunakan strategi mengajar dan mampu
menerapkan metode – metode mengajar secara berdaya guna dan berhasil guna akan
disebut sebagai guru yang efektif.
Kualifikasi Profesionalv
Yang dimaksud dengan kualifikasi profesional yaitu kemampuan melakukan tugas
mengajar dan mendidik yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan.
V.2. PROFESI GURU
a. Arti dan Ciri Jabatan Profesional
a) Pengertian Profesi Umum
Secara estimologi, istilah profesi berasal dari bahasa Inggris yaitu profession
atau bahasa latin, profecus, yang artinya mengakui, adanya pengakuan,
menyatakan mampu, atau ahli dalam melakukan suatu pekerjaan.
Sedangkan secara terminologi, profesi berarti suatu pekerjaan yang
mempersyaratkan pendidikan tinggi bagi pelakunya yang ditekankan pada pekerjaan
mental; yaitu adanya persyaratan pengetahuan teoritis sebagai instrumen untuk
melakukan perbuatan praktis, bukan pekerjaan manual (Danin, 2002). Jadi suatu
profesi harus memiliki tiga pilar pokok, yaitu pengetahuan, keahlian, dan
persiapan akademik,
Menurut De George profesi adalah:
Pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup
dan yang mengandalkan suatu keahlian.
Jadi, profesi adalah suatu pekerjaan yang membutuhkan keahlian , pengetahuan
yang didapat melalui sebuah pendidikan yang menghasilkan nafkah hidup.
b) Pengertian Profesi Guru
Profesi guru adalah jabatan profesional yang memiliki tugas pokok dalam proses
pembelajaran. Uraian tugas pokok tersebut mencakup keseluruhan unsur proses
pendidikan dan peserta didik. Tugas pokok itu hanya dapat dilaksanakan secara
profesional bila persyaratan profesional yang ditetapkan terpenuhi.
c) Syarat-syarat Profesi Keguruan
Untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, efisien, dan efektif,
guru harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
• Menguasai ilmu pendidikan, termasuk konsep, teori, dan proses,
• Menguasai teaching learning strategies,
• Memahami ICT dan menguasainya untuk diaplikasikan dalam proses pembelajaran,
terutama untuk mendukung penerapan learning strategies yang dikembangkan oleh
guru,
• Menguasai developmental pcychology, psikologi anak, dan psikologi kognitif,
• Menguasi teori belajar,
• Memahami berbagai konsep pokok sosiologi dan antropologi yang relevan dalam
proses pendidikan dan pertumbuhan anak,
• Menguasai bidang studi tertentu yang relevan dengan tugasnya sebagai guru
pada jenjang persekolahan tertentu,
• Memahami administrasi pendidikan, terutama tentang management of learning,
• Menguasasi konsep dan prinsip pengembangan kurikulum,
• Memahami dan menguasi pendidikan nilai,
• Memahami proses dan dampak globalisasi serta implikasinya terhadap proses
pendidikan peserta didik,
• Memahami strategic environment yang berpengaruh terhadap proses pendidikan
peserta didik,
• Memahami peran dan pengaruh aspek sosial, kultural, dan ekonomi terhadap
proses pendidikan.
d) Ciri-ciri jabatan profesional adalah sebagai berikut :
Keterampilan yang berdasar pada
pengetahuan teoretis: Profesional§ diasumsikan mempunyai pengetahuan
teoretis yang ekstensif dan memiliki keterampilan yang berdasar pada
pengetahuan tersebut dan bisa diterapkan dalam praktek.
Asosiasi profesional: Profesi biasanya
memiliki badan yang§ diorganisasi oleh para anggotanya,
yang dimaksudkan untuk meningkatkan status para anggotanya. Organisasi profesi
tersebut biasanya memiliki persyaratan khusus untuk menjadi anggotanya.
Pendidikan yang ekstensif: Profesi yang
prestisius biasanya memerlukan pendidikan yang lama dalam jenjang pendidikan
tinggi.§
Ujian kompetensi: Sebelum memasuki
organisasi profesional, biasanya§ ada persyaratan untuk lulus dari
suatu tes yang menguji terutama pengetahuan teoretis.
Pelatihan institutional: Selain ujian,
juga biasanya dipersyaratkan§ untuk mengikuti pelatihan
istitusional dimana calon profesional mendapatkan pengalaman praktis sebelum
menjadi anggota penuh organisasi. Peningkatan keterampilan melalui pengembangan
profesional juga dipersyaratkan.
Lisensi: Profesi menetapkan syarat
pendaftaran dan proses sertifikasi§ sehingga hanya mereka yang memiliki
lisensi bisa dianggap bisa dipercaya.
Otonomi kerja: Profesional cenderung
mengendalikan kerja dan§ pengetahuan teoretis mereka agar
terhindar adanya intervensi dari luar.
Kode etik: Organisasi profesi biasanya
memiliki kode etik bagi para§ anggotanya dan prosedur
pendisiplinan bagi mereka yang melanggar aturan.
Mengatur diri: Organisasi profesi harus
bisa mengatur organisasinya§ sendiri tanpa campur tangan
pemerintah. Profesional diatur oleh mereka yang lebih senior, praktisi yang
dihormati, atau mereka yang berkualifikasi paling tinggi.
Layanan publik dan altruisme:
Diperolehnya penghasilan dari kerja§ profesinya dapat dipertahankan
selama berkaitan dengan kebutuhan publik, seperti layanan dokter berkontribusi
terhadap kesehatan masyarakat.
Status dan imbalan yang tinggi: Profesi
yang paling sukses akan meraih§ status yang tinggi, prestise, dan
imbalan yang layak bagi para anggotanya. Hal tersebut bisa dianggap sebagai
pengakuan terhadap layanan yang mereka berikan bagi masyarakat.
b. Persyaratan Guru sebagai Profesi
Untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, efisien, dan efektif,
guru harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
• Menguasai ilmu pendidikan termasuk konsep, teori, dan proses
• Menguasai teaching learning strategies
• Memahami ICT dan menguasainya untuk diaplikasikan dalam proses pembelajaran,
terutama untuk mendukung penerapan learning strategies yang dikembangkan oleh
guru
• Menguasai developmental pcychology, psikologi anak, dan psikologi kognitif
• Menguasai teori belajar
• Memahami berbagai konsep pokok sosiologi dan antropologi yang relevan dalam
proses pendidikan dan pertumbuhan anak
• Menguasai bidang studi tertentu yang relevan dengan tugasnya sebagai guru
pada jenjang persekolahan tertentu
• Memahami administrasi pendidikan, terutama tentang management of learning
• Menguasai konsep dan prinsip pengembangan kurikulum
• Memahami dan menguasai pendidikan nilai
• Memahami proses dan dampak globalisasi serta implikasinya terhadap proses
pendidikan peserta didik
• Memahami strategic environment yang berpengaruh terhadap proses pendidikan
peserta didik
• Memahami peran dan pengaruh aspek sosial, kultural,dan ekonomi terhadap
proses pendidikan
c. Konsep Dasar Kemampuan Guru
Kemampuan merupakan gambaran hakikat kualitatif dari perilaku guru atau tenaga
kependidikan yang tampak sangat berarti. Kemampuan guru merupakan salah satu
hal yang harus dimiliki dalam jenjang pendidikan apapun karena kemampuan itu
memiliki kepentingan tersendiri dan sangat penting untuk dimiliki oleh guru.
Mengembangkan Kepribadian
• Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
• Berperan dalam masyarakat sebagai warga negara yang berjiwa Pancasila
• Mengembangkan sifat-sifat terpuji yang dipersayaratkan bagi jabatan guru
Menguasai Landasan Pendidikan
• Mengenal tujuan pendidikan untuk pencapaian Tujuan Pendidikan Nasional
• Mengenal sekolah dalam masyarakat
• Mengenal prinsip-prinsip psikologi Pendidikan yang dapat dimanfaatkan
pendidkan dalam PBM
Menguasai Bahan Pengajaran
• Menguasai bahan pengajaran kurikulum
• Menguasai bahan pengajaran
Menyusun Bahan Pengajaran
• Menetapkan tujuan pembelajaran kurikulum
• Memilih dan mengembangkan bahan pengajaran
• Memilih dan mengembangkan strategi belajar mengajar
• Memilih dan mengembangkan media pembelajaran yang sesuai
• Memilih dan memanfaatkan sumber belajar
Melaksanakan Program Pengajaran
• Menciptakan iklim belajar mengajar yang sehat
• Mengatur ruang beajar
• Mengelola interaksi belajar mengajar
• Memilih dan memanfaatkan sumber belajar
Menilai Hasil dan Proses Belajar Ynag telah dilaksanakan
• Menilai prestasi murid untuk kepentingan pengajaran
• Menilai proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan
Menyelenggarakan Program Bimbingan
• Membimbing siswa yang mengalami kesulitan belajar
• Membimbing siswa yang kelainan dan berbakat khusus
• Membimbing siswa untuk menghargai pekerjaan di masyarakat
Menyelenggarakan Administrasi sekolah
• Mengenal pengadministrasian kegiatan sekolah
• Melaksanakan kegiatan administrasi sekolah
Berinteraksi dengan teman sejawat dan masyarakat
• Berinteraksi dengan sejawat untuk meningkatkan kemampuan profesioanal
• Berinteraksi dengan masyarakat untuk penuaian misi sekolah
Menyelenggarakan Penelitian Sederhana untuk Kepentingan Pengajaran
• Mengkaji konsep dasar penelitian ilmiah
• Melaksanakan Penelitian sederhana
d. Kompetensi yang harus dimiliki Guru
Kompetensi pedagogikv
Dalam UU No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen dikemukakan kompetensi
pedagogic adalah “kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik”. Depdiknas
(2004: 9) menyebut kompetensi ini dengan “kompetensi pengelolaan pembelajaran”.
Kompetensi ini dapat dilihat dari kemampuan merencanakan program belajar
mengajar, kemampuan melaksanakan interaksi atau mengelola proses belajar
mengajar, dan kemampuan melakukan penilaian.
Kompetensi menyusun rencana pembelajaran mencakup kemampuan:
o merencanakan pengorganisasian bahan-bahan pengajaran,
o merencanakan pengelolaan kegiatan belajar mengajar,
o merencanakan pengelolaan kelas,
o merencanakan penggunaan media dan sumber pengajaran, dan
o merencanakan penilaian prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran.
Menurut Siswoyo (2006) kompetensi Pedagogik bukanlah kompetensi yang hanya
bersifat teknis belaka, yaitu “kompetensi mengelola peserta didik..” (yang
dirumuskan dalam PP RI No. 19 tahun 2005), karena “pedagogy” or “paedagogy”
adalah “the art and science of teaching and educating”.
Depdiknas (2004: 9) mengemukakan kompetensi penyusunan rencana pembelajaran
meliputi:
o mampu mendeskripsikan tujuan,
o mampu memilih materi,
o mampu mengorganisir materi,
o mampu menentukan matode/strategi pembelajaran,
o mampu menentukan sumber belajar/media/alat peraga pembelajaran,
o mampu menyusun perangkat penilaian,
o mampu menentukan teknik penilaian, dan
o mampu mengalokasikan waktu.
Berdasarkan uraian di atas, merencanakan program belajar mengajar merupakan
proyeksi guru mengenai kegiatan yang harus dilakukan siswa selama pembelajaran
berlangsung, yang mencakup : merumuskan tujuan, menguraikan deskripsi satuan
bahasan, merancang kegiatan belajar mengajar, memilih berbagai media dan sumber
belajar, dan merencanakan penilaian penguasaan tujuan. Kompetensi pedagogic ini
mencakup pemahaman dan pengembangan potensi peserta didik, perencanan dan
pelaksanaan pembelajaran, serta system evaluasi pembelajaran, juga harus
menguasai “ilmu pendidikan”. Kompetensi ini diukur dengan performance test atau
episodes terstruktur dalam praktek pengalaman lapangan (PPL), dan tase based
test yang dilakukan secara tertulis.
Kemampuan mengelola pembelajaran, meliputi:
a. Pemahaman peserta didik
b. Perancangan, pelaksanaan dan evaluasi hasil belajar
c. Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang
dimilikinya.
Kompetensi kepribadianv
Kompetensi kepribadian sekurang-kurangnya mencakup kepribadian yang:
• beriman dan bertakwa
• berakhlak mulia
• arif dan bijaksana
• demokratis
• mantap
• berwibawa
• stabil
• dewasa
• jujur
• Sportif
• menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat
• secara obyektif mengevaluasi kinerja sendiri
• mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan
Kompetensi sosialv
Merupakan kemampuan Guru sebagai bagian dari Masyarakat yang sekurang-kurangnya
meliputi kompetensi untuk:
• berkomunikasi lisan, tulis, dan/atau isyarat secara santun
• menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional
• bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga
kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua atau wali peserta didik
• bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma
serta sistem nilai yang berlaku
• menerapkan prinsip persaudaraan sejati dan semangat kebersamaan
Kompetensi profesionalv
Berdasarkan peran guru sebagai pengelola proses pembelajaran, guru harus
memiliki kemampuan:
1. Merencanakan sistem pembelajaran
• Merumuskan tujuan.
• Memilih prioritas materi yang akan diajarkan.
• Memilih dan menggunakan metode.
• Memilih dan menggunakan sumber belajar yang ada.
• Memilih dan menggunakan media pembelajaran.
2. Melaksanakan sistem pembelajaran
• Memilih bentuk kegiatan pembelajaran yang tepat.
• Menyajikan urutan pembelajaran secara tepat.
3. Mengevaluasi sistem pembelajaran
• Memilih dan menyusun jenis evaluasi.
• Melaksanakan kegiatan evaluasi sepanjang proses.
• Mengadministrasikan hasil evaluasi.
4. Mengembangkan sistem pembelajaran
• Mengoptimalisasi potensi peserta didik.
• Meningkatkan wawasan kemampuan diri sendiri.
• Mengembangkan program pembelajaran lebih lanjut.
Kompetensi guru dirumuskan kedalam:
• standar kompetensi Guru pada satuan pendidikan di TK atau RA, dan pendidikan
formal bentuk lain yang sederajat
• standar kompetensi Guru kelas pada SD atau MI, dan pendidikan formal bentuk
lain yang sederajat
• standar kompetensi Guru mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran pada
SMPatau MTs, SMA atau MA, SMK atau MAK dan pendidikan formal bentuk lain yang
sederajat
• standar kompetensi Guru pada satuan pendidikan TKLB, SDLB, SMPLB, SMALB dan
pendidikan formal bentuk lain yang sederajat
e. Karakteristik Kemampuan Guru
• Berbagi pengetahuan dengan orang lain
• Challenge, menginspirasi, memotivasi, dan mendorong siswa
• Merasa bangga pada sendiri dan juga prestasi siswa
• Menguasai materi
• Menganalisis materi
f. Guru yang Profesional
Pada umumnya orang memberi arti yang sempit teradap pengertian profesional.
Profesional sering diartikan sebagai suatu keterampilan teknis yang dimilki
seseorang. Misalnya seorang guru dikatakan guru profesional bila guru tersebut
memiliki kualitas megajar yang tinggi. Padahal pengertian profesional tidak
sesempit itu, namun pengertiannya harus dapat dipandang dari tiga dimensi,
yaitu : expert [ ahli ], responsibility [ rasa tanggung jawab ] baik tanggung
jawab intelektual maupun moral, dan memiliki rasa kesejawatan.
Expert
Pengertian ahli disini dapat diartikan sebagai ahli dalam bidang pengetahuan
yang diajarkan dan ahli dalam tugas mendidik. Seorang guru bisa disebut ahlinya
apabila tidak hanya menguasai isi pengajaran yang diajarkan saja, tetapi juga
mampu dalam menanamkan konsep mengenai pengetahuan yang diajarkan dan mampu
menyampaikan pesan-pesan didik. Mengajar adalah sarana untuk mendidik, untuk
menyampaikan pesan pesan didik. Guru yang ahli memilki pengetahuan tentang cara
mengajar [teaching is a knowledge ], juga keterampilan [teaching is skill] dan
mengerti bahwa mengajar adalah juga suatu seni [teaching is an art] . Didalam
prosesnya kita harus ingat bahwa siswa bukanlah sebuah manusia tetapi merupakan
seorang manusia, pengetahuan yang diberikan padanya merupakan bahan untuk
membentuk pribadi yang utuh [holistik], membentuk konsep berpikir, sikap jiwa
dan menyentuh afeksi yang terdalam. Oleh sebab itu guru tidak hanya dituntut
memiliki pengetahuan dan terampil saja tetapi harus memiliki seni mengajar.
Jadi kesimpulannya guru yang ahli itu disamping memiliki ilmu dan terampil
dibidangnya, juga harus memiliki seni mengajar. sehingga dalam proses belajar
mengajar mampu menciptakan situasi belaj’ar yang mengandung makna relasi
interpersonal sehingga siswa merasa “diorangkan”, memiliki jati dirinya.
Responsibility
Pengertian bertanggung jawab menurut teori ilmu mendidik mengandung arti bahwa
seseorang mampu memberi pertanggung jawaban dan beresedia untuk diminta
pertanggung jawaban. Tanggung jawab juga mengandung makna sosial, artinya orang
yang bertanggung jawab harus mampu memberi pertanggung jawaban terhadap orang
lain. Tanggung jawab juga mengandung makna etis artinya tanggung jawab itu
merupakan perbuatan yang baik. Dan tanggung jawab juga mengandung makna
religius, artinya ia juga harus punya rasa tanggung jawab tehadap Tuhan Yang
Maha Kuasa. Guru yang profesional mempersiapkan diri sematang-matangnya sebelum
ia mengajar. la menguasai apa yang diajarkannya dan bertanggung jawab atas
semua yang disampaikan dan bertanggung jawab atas segala tingkah lakunya.
Sense of Belonging/Colleague
Salah satu tugas dari organisasi profesi adalah menciptakan rasa kesejawatan
sehingga ada rasa aman dan perlindungan jabatan. Melalui organisasi profesi
diciptakan rasa kesejawatan. Semangat korps dikembangkan agar harkat martabat
guru dijunjung tinggi, baik oleh guru sendiri maupun masyarakat pada umumnya.
Jadi seseorang bisa disebut sebagai profesional apabila tidak hanya berkualitas
tinggi dalam hal teknis namun harus ahli dibidangnya [expert], memiliki rasa
tanggung jawab [responsibility] baik dalam tanggung jawab intelektual maupun
tanggung jawab moral dan memiliki rasa kesejawatan.
Berbicara tentang guru yang profesional berarti membicarakan tentang
kualifikasi guru. Guru yang profesional punya kualifikasi tertentu. Ada dua
kualifikasi yaitu :
Kualifikasi Personal.
Ada berbagai ungkapan untuk melukiskan kualifikasi personal guru diantaranya :
1. Guru yang baik Baik disini dalam artian mempunyai sifat moral yang baik
seperti ; jujur, setia, sabar, betanggung jawab, tegas, iuwes, ramah,
konsisten, berinisiatif dan berwibawa. Jadi guru yang baik itu bila dilengkapi
oleh sifat – sifat yang disebutkan di atas.
2. Guru yang berhasil, Seorang guru dikatakan berhasil apabila ia di dalam
mengajar dapat menunjukan kemampuannya sehingga tujuan – tujuan yang telah
ditentukan dapat dicapai oleh peserta didik.
3. Guru yang efektif. Yang dimaksud dengan guru yang efektif yaitu apabila ia
dapat mendayagunakan waktu dan tenaga yang sedikit tetapi dapat mencapai hasil
yang banyak. Berarti guru yang pandai menggunakan strategi mengajar dan mampu
menerapkan metode – metode mengajar secara berdaya guna dan berhasil guna akan
disebut sebagai guru yang efektif.
Kualifikasi Profesional
Yang dimaksud dengan kualifikasi profesional yaitu kemampuan melakukan tugas
mengajar dan mendidik yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan.
V.3. PROFESIONALISASI
a. Pengertian Profesionalisasi
Profesionalisasi adalah suatu proses, pertumbuhan, perawatan dan pemeliharaan
untuk mencapai tingkat profesi yang optimal. Dalam hal ini bisa dikaitkan
dengan usaha-usaha pengembangan status jabatan guru sebagai pengajar dan
pendidik menjadi guru yang profesional.
b. Pentingnya Usaha Profesionalisasi Jabatan Guru sebagai Pengajar dan Pendidik
Guru itu bagaikan sumber air yang terus menerus mengalir sepanjang kariernya,
jika sumber air itu tidak diisi terus menerus maka sumber air itu akan kering.
Demikian juga jabatan guru, apabila guru tidak berusaha menambah pengetahuan
yang baru, maka materi sajian waktu mengajar akan “gersang”. Dalam usaha
profesionalisasi ini ada dua motif, yaitu : a. Motif eksternal yaitu pimpinan
yang mendorong guru untuk mengikuti penataran, atau kegiatan-kegiatan akademik
yang sejenis. Atau ada lembaga pendidikan yang memberi kesempatan bagi guru
untuk belajar lagi. Dan ini termasuk in-service education. b. Motif internal
yaitu dorongan dari diri guru itu sendiri yang berusaha belajar terus menerus
untuk tumbuh dalam jabatannya, baik itu melalui membaca dan mengikuti berita
yang berkaitan dengan pendidikan, maupun mengikuti pendidikan yang lebih
tinggi, demi untuk meningkatkan profesinya di bidang pendidikan.
BAB VI
KRITERIA KEBERHASILAN GURU DALAM PENDIDIKAN
Guru merupakan tulang punggung dalam kegiatan pendidikan
terutama yang berkaitan dengan kegiatan proses belajar mengajar. Tanpa adanya
peran guru maka proses belajar mengajar akan terganggu bahkan gagal. Oleh
karena itu dalam manajemen pendidikan perananan guru dalam upaya keberhasilan
pendidikan selalu ditingkatkan, kinerja atau prestasi kerja guru harus selalu
ditingkatkan mengingat tantangan dunia pendidikan untuk menghasilkan kualitas
sumber daya manusia yang mampu bersaing di era global. Kinerja atau prestasi
kerja (performance) dapat diartikan sebagai pencapaian hasil kerja sesuai
dengan aturan dan standar yang berlaku pada masing-masing organisasi dalam hal
ini sekolah.
Keberhasilan guru dalam pendidikan dapat dilihat dari hal-hal yang dilakukan sebagai
berikut:
a. Selalu siap untuk meningkatkan pengetahuan seputar materi pelajarannya,
yaitu dengan membaca dan melakukan pembahasan dengan mendalam, hingga dia bisa
menggabungkan materi tersebut dengan pengetahuan yang baru. Di samping itu, dia
memiliki metode yang baik untuk memberikan pemahaman kepada murid-muridnya.
b. Mengenal dengan baik sarana-sarana modern dalam pendidikan, sehingga dirinya
dapat mentransfer pengetahuan-pengetahuan yang ada dengan mudah.
c. Mengetahui beberapa karakter pertumbuhan jiwa para murid, sehingga dia mampu
menghadapi perbedaan antara setiap individu dari sisi jiwa, akal dan emosional.
Dengan hal ini, sang guru menjalankan proses pendidikan sesuai dengan arah
perkembangan kejiwaan murid, bukan bertolak belakang dengan perkembangan jiwa
mereka.
d. Bersikap obyektif. Dengan arti, bersikap sama kepada semua murid; tidak
pilih kasih, atau memberikan satu stempel kepada salah seorang murid. Menjauhi
sikap condong kepada sebagian murid dan menafikan yang lain.
e. Memiliki sifat inovatif dan kreatif. Dengan kata lain, memakai sarana-sarana
terbaru dalam mendidik.
f. Murid-murid merasa dihormati dan dihargai ketika bersamanya. Di samping itu,
para murid merasa bahwa gurunya adalah pemilik kemuliaan karena dialah yang
telah memberikan ilmu kepadanya, menunjukkan akhlak yang baik, bahkan membantu
mereka dalam menyelesaikan permasalahannya; baik berhubungan dengan materi
pelajaran maupun tentang kehidupan sosial.
BAB VII
PERAN TEKNOLOGI PERKEMBANGAN PENDIDIKAN
VII.1. Pengertian Teknologi
Teknologi bagi kita merupakan pengetahuan terhadap penggunaan alat dan
kerajinan, dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi kemampuan untuk mengontrol
dan beradaptasi dengan lingkungan alamnya. Kata teknologi berasal dari bahasa
Yunani technologÃa (τεχνολογία) ‐ TECHNE (Ï„Îχνη), ‘kerajinan’ dan‐Logia (‐λογία), studi tentang sesuatu, atau
cabang pengetahuan dari suatu disiplin. Teknologi juga dapat diartikan benda‐benda yang berguna bagi manusia,
seperti mesin, tetapi dapat juga mencakup hal yang lebih luas, termasuk sistem,
metode organisasi, dan teknik.
Di dunia pendidikan, banyak sekali lembaga pendidikan yang telah berhasil
mengembangkan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam mendukung proses
pembelajarannya. Dunia, saat ini sedang memasuki era yang ditandai dengan
gencarnya inovasi teknologi dan peluang ekonomi yang belum pernah terbayangkan
sebelumnya. Perubahan-perubahan besar terjadi dalam bidang teknologi, politik,
sosial dan ekonomi. Segala perubahan ini telah menyebabkan terjadinya
pergeseran dalam berbagai bidang yang antara lain adalah;
• Masyarakat industri ke masyarakat informasi (kita masih berkutat dari
masyarakat agraris ke masyarakat industri)
• Teknologi yang dipaksakan ke teknologi tinggi (hi-tech)
• Ekonomi nasional ke perekonomian dunia
• Kebutuhan jangka pendek ke jangka panjang
• Sistem sentralisasi ke sistem desentralisasi
• Bantuan ke lembagaan berpindah ke swakarsa
• Dari pola hirarchi ke jaringan kerja (networking)
• Dari pilihan terbatas ke banyak pilihan
Menurut Budi Sutedjo (Eti Rpchaety, 2005), gelombang teknologi dan informasi
berkembang melalui beberapa tahapan sebagai berikut :
• Gelombang Pertama, Pemanfaatan TIK difokuskan untuk peningkatan produktivitas
dan memperkecil biaya
• Gelombang kedua, TIK difokuskan untuk meningkatkan efektivitas penggunaan
komputer melalui pembangunan jaringan komputer
• Gelombang ketiga, TIK difokuskan untuk menghasilkan keuntungan lewat
pembangunan program sistem informasi
• Gelombang keempat, TIK difokuskan untuk membantu proses pengambilan keputusan
dari data kualitatif
• Gelombang kelima, TIK difokuskan untuk meraih pelanggan (konsumen) melalui
pengembangan jaringan internet
• Gelombang keenam, TIK yaitu mengembangkan sistem jaringan tanpa kabel
(wireless).
Teknologi Informasi berbasis pada disiplin ilmu-ilmu Informatika, Teknik
Komputer dan Manajemen Informatika yang semuanya terikat dalam Komputasi.
Komputasi berarti pekerjaan yang berkaitan dengan aktivitas : hitung menghitung
proses pengolahan, penyimpanan dan penyampaian informasi, akibatnya tiap
jaringan komunikasi beralih menjadi sentral informasi dan bukan komputernya
lagi. Pemanfaatan yang dulunya sangat terbatas, kini telah memasuki kedalam
katagori strategis, pengaruhnya pada kelangsungan usaha tidak dapat dipungkiri
lagi (PUSTEKKOM,2006).
Tekonologi informasi dari massa ke massa selalu mengalami perkembangan yang
pesat. Kemajuan yang pesat dalam bidang elektronika menyebabkan kemampuan
komputer maju pesat dan cepat usang mengikuti Hukum Moore (Vide;Bill Gates,
1995 dalam PUSTEKKOM) dimana :
• Kemampuan chip komputer akan menjadi dua kali lipat setiap tahunnya
• Perangkat lunak semakin canggih
• Batas maya (virtual) tidak akan pernah tercapai.
Dalam dunia pendidikan, keberadaan sistem informasi dan komunikasi merupakan
salah satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas pendidikan.
Dalam sebuah lembaga pendidikan harus memiliki komponen – komponen yang
diperlukan untuk menjalankan operasional pendidikan, seperti siswa, sarana dan
prasarana, struktur organisasi, proses, sumber daya manusia (tenaga pendidik),
dan biaya operasi. Sedangkan sistem komunikasi dan informasi terdiri dari
komponen – komponen pendukung lembaga pendidikan untuk menyediakan informasi
yang dibutuhkan pihak pengambil keputusan saat melakukan aktivitas pendidikan
(PUSTEKKOM,2006).
Peran-Peran TIK dalam dunia pendidikan :
• TIK sebagai keterampilan (skill) dan kompetensi
• TIK sebagai infratruktur pedidikan
• TIK sebagai sumber bahan ajar
• TIK sebagai alat bantu dan fasilitas pendidikan
• TIK sebagai pendukung manajemen pendidikan
• TIK sebagai sistem pendukung keputusan
Pengertian teknologi menurut beberapa ahli:
• Menurut Prayitno dalam Ilyas (2001), teknologi adalah seluruh perangkat ide,
metode, teknik benda-benda material yang digunakan dalam waktu dan tempat
tertentu maupun untuk memenuhi kebutuhan manusia
• Mardikanto (1993), teknologi adalah suatu perilaku produk, informasi dan
praktek-praktek baru yang belum banyak diketahui, diterima dan digunakan atau
diterapkan oleh sebagian warga masyarakat dalam suatu lokasi tertentu dalam
rangka mendorong terjadinya perubahan individu dan atau seluruh warga
masyarakat yang bersangkutan.
• Soeharjo dan Patong (1984) dalam Wasono (2008) menguraikan makna teknologi
dalam tiga wujud yaitu cara lebih baik, pemakai peralatan baru dan penambahan
input pada usahatani. Lebih lanjut dikatakan bahwa teknologi hendaknya memiliki
syarat-syarat sebagai berikut : (1) teknologi baru hendaknya lebih unggul dari
sebelumnya; (2) mudah digunakan; dan (3) tidak memberikan resiko yang besar
jika diterapkan.
• Mosher (1985), teknologi merupakan salah satu syarat mutlak pembangunan
pertanian. Sedangkan untuk mengintroduksi suatu teknologi baru pada suatu
usahatani menurut Fadholi (1991), ada empat faktor yang perlu diperhatikan
yaitu (1) secara teknis dapat dilaksanakan; (2) secara ekonomi menguntungkan;
(3) secara sosial dapat diterima dan (4) sesuai dengan peraturan pemerintah.
Dari beberapa pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa teknologi
adalah hal-hal yang baru yang belum diketahui, diterima dan digunakan banyak
orang dalam suatu lokasi tertentu baik berupa ide maupun berupa benda atau
barang.
VII.2. Dasar Pemikiran perlunya Teknologi dalam Pendidikan
Dalam UU No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 4 menegaskan
paling tidak terdapat dua tujuan Pendidikan Nasional, yaitu memiliki
pengetahuan dan keterampilan.
Ki Hajar Dewantara(1946:15) menyatakan bahwa kebudayaan merupakan factor
penting sebagai akar pendidikan suatu bangsa.
Tuntutan masyarakat pada hakikatnya adalah amat kompleks dan beragam, hal ini
erat kaitannya dengan kondisi psikologis individu. Perbedaan individu
berhubungangan dengan perkembangannya, latar belakang social budaya, dan
factor-faktor yang dibawa kelahirannya, merupakan hal-hal yang perlu diperhatikan
dalam mengembangkan kurikulum.
Gencarnya perkembangan Iptek menuntu adanya manusia-manusia yang kreatif agar
mereka dapat memasuki dunia yang amat kompetitif. Berkaitan dengan hal
tersebut, M.S.U. Munandar (1997:5-59) mengemukakan bahwa kreatifitas adalh
kemampuan untuk membuat kombinasi baru berdasarkan data, informasi, atau unsure
hara yang ada.
Dari beberapa penikiran yang telah dikemukakan, dapat disimbulkan bahwa
pengembangan Kurikulum Pendidikan Teknologi untuk siswa di jenjang pendidikan
dasar tampaknya merupakan salah satu alternative yang dapat mengatasi masalah
yang berkaitan dengan pembudayaan teknologi.
VII.3. Dasar Pertimbangan Perumusan
Pendidikan teknologi perlu diperkenalkan pada peserta didik sejak usia dini.
Satcweld berpendapat bahwa:
• Teknologi merupakan aplikasi pengetahuan
• Teknologi merupakan aplikasi dasar karena merupakan kombinasi dari
pengetahuan, pemikiran, tindakan
• Teknologi mengembangkan kemampuan manusia karena dengan teknologi
memungkinkan manusia mengadaptasi dan menata dunia fisik yang telah ada.
Untuk mencari pendidikan teknologi yang cocok dapat menggunakan pendekatan
keempat model konsep pengembangan kurikulum, yaitu:
• Kurikulum subjek akademis, sebab pada dasarnya teknologi ada sejak manusia
itu ada dan pengetahuan tentang teknologi begitu banyak.
• Kurikulum humanistic, sebab pendidikan teknologi mengajarkan bagaimana setiap
individu dapat mengambangkan potensi yang dimilkinya.
• Kurikulum teknologi, sebab pendidikan teknologi selain peserta didik memiliki
kompetensi-kompetensi tertentu , juga dalam kegiatan belajar mengajar
menggunakan pendekatan desain pembelajran tertentu.
• Kurikulum rekonstruksi social, sebab konsep pendidikan teknologi dapat dengan
mudah terbentuk pada diri peserta didik melalui aktifitas atau
eksperimen(Confrey,1990:20)
Dari pertimbangan ang telah dikemukakan diatas maka dalam menentukan rumusan
tujuan pembelajaran dan bahan ajar, pendidikan teknologi mengacu atas hal-hal
berikut:
Rumusan Tujuanv
Tujuan pendidikan teknologi hendaknya mengacu pada pencapaian tujuan Pendidikan
Nasional yang terdapat pada Pasal 4 UU. No. 2 Tahun 1989, yaitu untuk
mengembangkan manusia yang utuh, meliputi;(1) keimanan dan ketaqwaan kepada
Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur,(2) sehat jasmani dan rohani,(3)
memiliki pengetahuan dan keterampilan ,(4) kepribadian yang mantap dan
mandiri,(5) memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Selain
itu juga hendaknya mengacu pada pencapaian tujuan pendidikan dasar yang
terdapat dalam pasal 3 PP No. 27 Tahun 1990.
Pengembangan Bahan Ajarv
Ruang lingkup kajian teknologi yang dikembangkan dapat mencakup sebagai
berikut:
• Pilar teknologi , yaitu aspek-aspek yang diproses untuk menghasilkan sesuatu
produk teknologi yang merupakan bahan ajar tentang materi/bahan, energy dan
informasi.
• Domain teknologi, yaitu suatu focus bahan kajian yang digunakan sebagai acuan
untuk mengembangkan bahan pelajaran yang terdiri atas:
Teknologi dan masyarakat (berintikan
teknologi untuk kehidupan sehari-hari, industri, profesi, dan lingkungan
hidup);Ø
Produk teknologi dan system (berintikan
bahan, energy dan informasi)Ø
Perancangan dan pembuatan karya
teknologi (berintikan gambar dan perancangan, pembuatan dan pengkajian ulang
perancangan)Ø
• Area teknologi, yaitu batas kawasan teknologi dalam program pendidikan
teknologi, hal ini antara lain teknologi produksi, komunikasi, energy dan
bioteknologi.
Bahan Ajar yang Pokok-pokokv
Pokok-pokok bahan ajar yang dianggap ampuh untuk peserta didik di jenjang
pendidikan dasar(BTE,1998), keterampilan dasar teknik, penjernihan air,
bioteknologi, pengolahan macam-macam bahan, teknologi dan profesi, teknologi
produksi, transportasi dan navigasi, teknologi lingkungan hidup, computer dan
teknologi control, desan teknologi dan teknologi terapan.
Pembelajaranv
Dalam proses pembelajaran diperlukan:
Learning to know, yaitu peserta
didikakan dapat memahami danØ menghayati bagaimana suatu
pengetahuan dapat diperoleh dari fenomena yang terdapat dalam lingkungannya.
Learning to do, yaitu menerapkan suatu
upaya agar peserta didikØ menghayati proses belajar dengan
melakukan sesuatu yang bermakna.
Learning to be, yaitu proses
pembelajaran yang memungkinkan lahirnya manusia terdidik yang mandiri.Ø
Learning to live together, yaitu pendekatan
melalui penenrapanØ paradigma ilmi pengetahuan, seperti
pendekatan menemukan dan pendekatan menyelidiki akan memungkinkan peserta didik
menemukan dalam belajar.
VII.4. Dampak Teknologi dalam Pendidikan
Dampak Positif Teknologi terhadap
Pendidikanv
• menyebarkan informasi secara meluas, seragam dan cepat.
• membantu, melengkapi dan (dalam hal tertentu) menggantikan tugas guru.
• dipakai untuk melakukan kegiatan instruksional baik secara langsung maupun
sebagai produk sampingan.
• menunjang kegiatan belajar masyarakat serta mengundang partisipasi
masyarakat.
• menambah keanekaragaman sumber maupun kesempatan belajar.
• menambah daya tarik untuk belajar.
• membantu mengubah sikap pemakai.
• mempengaruhi pandangan pemakai terhadap bahan dan proses.
• mempunyai keuntungan rasio efektivitas biaya, bila dibandingkan dengan system
tradisional. (Miarso, 1981)
Dampak Negatif Teknologi Terhadap
pendidikanv
TIK seiring dengan perkembangannya yang semakin meningkat, namun tetap saja
memiliki kekurangan. Misalnya saja pada e-learning, e-learning dapat
menyebabkan pengalih fungsian guru yang mengakibatkan guru jadi tersingkirkan,
menyebabkan terciptanya individu yang bersifat individual karena sistem
pembelajaran dapat dilakukan dengan hanya seorang diri, dan kemungkinan etika
dan disiplin peserta didik susah atau sulit untuk diawasi dan dibina sehungga
lambat laun kualitas etika dan manusia khusunya para peserta didik akan menurun
drastis, serta hakikat manusia yang utama yaitu sebagai makhluk sosial akan
musnah.
Kemudian karena seringnya mengakses internet, di khawatirkan pelajar bukanya
benar-benar memanfaatkan TIK dengan optimal malah mengakses hal-hal yang tidak
baik, seperti pornografi yang sangat mudah di akses yang berefek buruk bagi
anak dibawah umur ataupun bagi yang sudah dewasa sekalipun. Hal lain misalnya
kecanduan : asik berinternet ( biasanya menggunakan fasilitas social networking
/ game online ) sehingga lupa waktu dan berakibat buruk bagi
kehidupannya.kemudian ada istilah Cyber-relational addiction adalah
keterlibatan yang berlebihan pada hubungan yang terjalin melalui internet
(seperti melalui chat room dan virtual affairs) sampai kehilangan kontak dengan
hubungan-hubungan yang ada dalam dunia nyata..Kemudaian dikenal pula
Information overload, Karena menemukan informasi yang tidak habis-habisnya yang
tersedia di internet, sejumlah orang rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk
mengumpulkan dan mengorganisir berbagai informasi yang ada. Kemudian bisa
membuat seseorang kecanduan, terutama yang menyangkut pornografi dan dapat
menghabiskan uang karena hanya untuk melayani kecanduan tersebut. Hal-hal
tersebut sangat menghambat berkembanganya pendidikan dalam TIK.
BAB VIII
PERAN GURU DALAM PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN DI ERA TEKNOLOGI KOMUNIKASI
DAN INFORMASI
VIII.1. Beberapa Teori tentang Sumber Belajar
Pembelajaran diupayakan mencakup semua variable pembelajaran yang dirasa turut
mempengaruhi belajar. Ada tiga variable yang pembelajaran yang perlu
dipertimbangkan dalam merancang pembelajaran, yaitu:
• Variabel kondisi
Kondisi pembelajaran adalah mencakup semua variabel yang tidak dapt
dimanipulasi oleh perencana pembelajarandan harus diterima apa adanya.
• Variabel metode
Variabel metode pembelajaran adalah mencakup semua cara yang dapat dipakai
untuk mencapai tujuan pembelajaran dalam kondisi tertentu
• Variabel hasil pembelajaran
Variabel hasil pembelajaran mencakup semua akibat yang muncul dari penggunaan
metode tertentu pada kondisi tertentu, seperti keefektifan pembelajaran,
efisiensi pembelajaran, dan daya tarik pembelajarn.
Setelah itu, ada tiga prinsip yang perlu dipertimbangkan dalam upaya menetapkan
metode pembelajaran, yaitu :
o Tidak ada satu metode pembelajaran yang unggul untuk semua tujuan dalam semua
kondisi,
o Metode (strategi) pelajaran yang berbeda memiliki pengaruh yang berbeda dan
konsisten pada hasil pembelajaran,
o Kondisi pembelajarn yang berbeda bisa memiliki pengaruh yang konsisten pada
hasil pembelajaran.
Pengembangan pembelajaran sebagai suatu proses yang sistematis untuk
menghasilkan suatu sistem pembelajaran melalui tahapan berikut :
Perumusan tujuan instruksional umum.§
Analisis tujuan instruksional umum.§
Analisis kemampuan awal siswa.§
Menuliskan tujuan instruksional khusus.§
Mengembangkan tes acuan patokan.§
Mengembangkan strategi pembelajaran.§
Mengembangkan bahan pembelajaran.§
Mendesain dan melaksanakan evaluasi
formatif.§
Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir pembahasan
suatu pokok bahasan / topik, dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh manakah
suatu proses pembelajaran telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. Winkel
menyatakan bahwa yang dimaksud dengan evaluasi formatif adalah penggunaan
tes-tes selama proses pembelajaran yang masih berlangsung, agar siswa dan guru
memperoleh informasi (feedback) mengenai kemajuan yang telah dicapai. Sementara
Tesmer menyatakan formative evaluation is a judgement of the strengths and
weakness of instruction in its developing stages, for purpose of revising the
instruction to improve its effectiveness and appeal. Evaluasi ini dimaksudkan
untuk mengontrol sampai seberapa jauh siswa telah menguasai materi yang
diajarkan pada pokok bahasan tersebut. Wiersma menyatakan formative testing is
done to monitor student progress over period of time. Ukuran keberhasilan atau
kemajuan siswa dalam evaluasi ini adalah penguasaan kemampuan yang telah
dirumuskan dalam rumusan tujuan (TIK) yang telah ditetapkan sebelumnya. TIK
yang akan dicapai pada setiap pembahasan suatu pokok bahasan, dirumuskan dengan
mengacu pada tingkat kematangan siswa. Artinya TIK dirumuskan dengan
memperhatikan kemampuan awal anak dan tingkat kesulitan yang wajar yang
diperkiran masih sangat mungkin dijangkau/ dikuasai dengan kemampuan yang
dimiliki siswa. Dengan kata lain evaluasi formatif dilaksanakan untuk
mengetahui seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai. Dari
hasil evaluasi ini akan diperoleh gambaran siapa saja yang telah berhasil dan
siapa yang dianggap belum berhasil untuk selanjutnya diambil tindakan-tindakan
yang tepat. Tindak lanjut dari evaluasi ini adalah bagi para siswa yang belum
berhasil maka akan diberikan remedial, yaitu bantuan khusus yang diberikan
kepada siswa yang mengalami kesulitan memahami suatu pokok bahasan tertentu.
Sementara bagi siswa yang telah berhasil akan melanjutkan pada topik
berikutnya, bahkan bagi mereka yang memiliki kemampuan yang lebih akan
diberikan pengayaan, yaitu materi tambahan yang sifatnya perluasan dan
pendalaman dari topik yang telah dibahas.
Merevisi pembelajaran.§
Melaksanakan evaluasi sumatif.§
Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir satu satuan
waktu yang didalamnya tercakup lebih dari satu pokok bahasan, dan dimaksudkan
untuk mengetahui sejauhmana peserta didik telah dapat berpindah dari suatu unit
ke unit berikutnya. Winkel mendefinisikan evaluasi sumatif sebagai penggunaan
tes-tes pada akhir suatu periode pengajaran tertentu, yang meliputi beberapa
atau semua unit pelajaran yang diajarkan dalam satu semester, bahkan setelah
selesai pembahasan suatu bidang studi.
VIII.2. Pengertian Media
Secara etimologi, kata “media” merupakan bentuk jamak dari “medium”, yang
berasal dan Bahasa Latin “medius” yang berarti tengah. Sedangkan dalam Bahasa
Indonesia, kata “medium” dapat diartikan sebagai “antara” atau “sedang”
sehingga pengertian media dapat mengarah pada sesuatu yang mengantar atau
meneruskan informasi (pesan) antara sumber (pemberi pesan) dan penerima pesan.
Media dapat diartikan sebagai suatu bentuk dan saluran yang dapat digunakan
dalam suatu proses penyajian informasi (AECT, 1977:162).
Istilah media mula-mula dikenal dengan alat peraga, kemudian dikenal dengan
istilah audio visual aids (alat bantu pandang/dengar). Selanjutnya disebut
instructional materials (materi pembelajaran), dan kini istilah yang lazim
digunakan dalam dunia pendidikan nasional adalah instructional media (media
pendidikan atau media pembelajaran). Dalam perkembangannya, sekarang muncul
istilah e-Learning. Huruf “e” merupakan singkatan dari “elektronik”. Artinya
media pembelajaran berupa alat elektronik, meliputi CD Multimedia Interaktif
sebagai bahan ajar offline dan Web sebagai bahan ajar online.
Berikut ini beberapa pendapat para ahli komunikasi atau ahli bahasa tentang
pengertian media yaitu:
• orang, material, atau kejadian yang dapat menciptakan kondisi sehingga
memungkinkan siswa dapat memperoleh pengetahuan, keterapilan, dan sikap yang
baru, dalam pengertian meliputi buku, guru, dan lingkungan sekolah (Gerlach dan
Ely dalam Ibrahim, 1982:3)
• saluran komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan antara sumber
(pemberi pesan) dengan penerima pesan (Blake dan Horalsen dalam Latuheru,
1988:11)
• komponen strategi penyampaian yang dapat dimuati pesan yang akan disampaikan
kepada pembelajar bisa berupa alat, bahan, dan orang (Degeng, 1989:142)
• media sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dan
pengirim pesan kepada penerima pesan, sehingga dapat merangsang pildran,
perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa, sehingga
proses belajar mengajar berlangsung dengan efektif dan efesien sesuai dengan
yang diharapkan (Sadiman, dkk., 2002:6)
• alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi, yang terdiri
antara lain buku, tape-recorder, kaset, video kamera, video recorder, film,
slide, foto, gambar, grafik, televisi, dan komputer (Gagne dan Briggs dalam
Arsyad, 2002:4)
VIII.3. Jenis Media
Media pembelajaran banyak jenis dan macamnya. Dari yang paling sederhana dan
murah hingga yang canggih dan mahal. Ada yang dapat dibuat oleh guru sendiri
dan ada yang diproduksi pabrik. Ada yang sudah tersedia di lingkungan untuk
langsung dimanfaatkan dan ada yang sengaja dirancang. Berbagai sudut pandang
untuk menggolongkan jenis-jenis media, yaitu :
Menurut Rudi Bretz (1971), Menggolongkan media berdasarkan tiga unsur pokok
(suara, visual, dan gerak) :
• Media audio visual gerak
• Media audio visual diam
• Media audio semi gerak
• Media visual diam
• Media visual semi gerak
• Media audio
• Media cetak
• Media visual gerak
Anderson (1976), Menggolongkan media menjadi sepuluh, yaitu :
• Audio : kaset audio, siaran radio, CD, telepon
• Cetak : buku pelajaran, modul, brosur, leaflet, gambar
• Audio – cetak : kaset audio yang dilengkapi bahan tertulis
• proyeksi visual diam : overhead transparansi (OHT), film bingkai (slide)
• proyeksi audio visual diam : film bingkai slide bersuara
• visual gerak : film bisu
• audio visual gerak : film gerak bersuara, video/VCD, televisi
• obyek fisik : benda nyata, model, spesimen
• manusia dan lingkungan : guru, pustakawan, laboran
• komputer : CAI
Schramm (1985), Menggolongkan media berdasarkan kompleksnya suara dan
berdasarkan jangkauannya.
• Media berdasarkan kompleksnya suara, yaitu : media kompleks (film, TV,
Video/VCD,) dan media sederhana (slide, audio, transparansi, teks).
• Media berdasarkan jangkauannya, yaitu : yaitu media masal (liputannya luas
dan serentak / radio, televisi), media kelompok (liputannya seluas ruangan /
kaset audio, video, OHP, slide, dll), media individual (untuk perorangan / buku
teks, telepon, CAI).
Terdapat enam jenis dasar dari media pembelajaran menurut Heinich and Molenda
(2005) yaitu:
1. Teks.
Merupakan elemen dasar bagi menyampaikan suatu informasi yang
Mempunyai berbagai jenis dan bentuk tulisan yang berupaya
memberi daya tarik dalam penyampaian informasi.
2. Media Audio.
Membantu menyampaikan maklumat dengan lebih berkesan
Membantu meningkatkan daya tarikan terhadap sesuatu
persembahan. Jenis audio termasuk suara latar, musik, atau
rekaman suara dan lainnya.
3. Media Visual
Media yang dapat memberikan rangsangan-rangsangan visual
seperti gambar/foto, sketsa, diagram, bagan, grafik, kartun, poster,
papan buletin dan lainnya.
4. Media Proyeksi Gerak.
Termasuk di dalamnya film gerak, film gelang, program TV, video
kaset (CD, VCD, atau DVD)
5. Benda-bendaTiruan/miniatur
Seperti benda-benda tiga dimensi yang dapat disentuh dan diraba oleh siswa.
Media ini dibuat untuk mengatasi keterbatasan baik obyek maupun situasi
sehingga proses pembelajaran tetap berjalan dengan baik.
6. Manusia.
Termasuk di dalamnya guru, siswa, atau pakar/ahli di bidang/materi tertentu.
Jenis media yang digunakan dalam pembelajaran cukup beragam,
mulai dari yang sederhana sampai pada media yang cukup rumit dan canggih. Salah
bentuk klasifikasi yang mudah dipelajari adalah klasifikasi yang disusun oleh
Heinick(1996) tersaji dalam table berikut:
KLASIFIKASI JENIS MEDIA
Media yang tidak terproyeksi(non projected media) Realita, model, bahan
grafis(graphical material), display
Media yang diproyeksikan(prpjected media) OHT, Slide, Opaque
Media audio(Audio) Audio kaset, vision, active audio vision
Media berbasis computer(computer based media) Computer Assected Instruction
(CIA), Computer Managed Instruction(CMI)
Multimedia Kit Perangkat Praktikum
VIII.4. Klasifikasi Media
Media pembelajaran diklasifikasi berdasarkan tujuan pemakaian dan karakteristik
jenis edia.Terdapat lima model klasifikasi, yaitu menurut: (1) Wilbur Schramm,
(2) Gagne, (3) Allen, (4) Gerlach dan Ely, dan (5)
Ibrahim.
Menurut Schramm, media digolongkan menjadi media rumit, mahal, dan media
sederhana. Schramm juga mengelompokkan media menurut kemampuan daya liputan,
yaitu (1) liputan luas dan serentak seperti TV, radio, dan facsimile; (2)
liputan terbatas pada ruangan, seperti film, video, slide, poster audio tape;
(3) media untuk belajar individual, seperti buku, modul, program belajar dengan
komputer dam telpon.
Menurut Gagne, media diklasifikasi menjadi tujuh kelompok, yaitu benda untuk
didemonstrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar bergerak,
film bersuara, dan mesin belajar. Ketujuh kelompok media pembelajaran tersebut
dikaitkan dengan kemampuannya memenuhi fungsi menurut hirarki belajar yang
dikembangkan, yaitu pelontar stimulus belajar, penarik minat belajar, contoh
prilaku belajar, member kondisi eksternal, menuntun cara berpikir, memasukkan
alih ilmu, menilai prestasi, dan pemberi umpan balik.
Menurut Allen, terdapat sembilan kelompok media, yaitu: visual diam, film,
televisi, obyek tiga dimensi, rekaman, pelajaran terprogram, demonstrasi, buku
teks cetak, dan sajian lisan. Di samping mengklasifikasikan, Allen juga
mengaitkan antara jenis media pembelajaran dan tujuan pembelajaran yang akan
dicapai. Allen melihat bahwa, media tertentu memiliki kelebihan untuk tujuan
belajar tertentu tetapi lemah untuk tujuan belajar yang lain. Allen
mengungkapkan enam tujuan belajar, antara lain: info faktual, pengenalan
visual, prinsip dan konsep, prosedur, keterampilan, dan sikap.
Setiap jenis media tersebut memiliki perbedaan kemampuan untuk mencapai tujuan
belajar; ada tinggi, sedang, dan rendah.
Menurut Gerlach dan Ely, media dikelompokkan berdasarkan ciri-ciri fisiknya
atas delapan elompok, yaitu benda sebenarnya, presentasi verbal, presentasi
grafis, gambar diam, gambar bergerak, rekaman suara, pengajaran terprogram, dan
simulasi.
Menurut Ibrahim, media dikelompokkan berdasarkan ukuran serta kompleks tidaknya
alat dan perlengkapannya atas lima kelompok, yaitu media tanpa proyeksi dua
dimensi; media tanpa proyeksi tiga dimensi; media audio; media proyeksi;
televisi, video, komputer.
Berdasarkan pemahaman atas klasifikasi media pembelajaran tersebut, akan
mempermudah para guru atau praktisi lainnya dalam melakukan pemilihan media
yang tepat pada waktu merencanakan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu.
Pemilihan media yang disesuaikan dengan tujuan, materi, serta kemampuan dan
karakteristik pebelajar, akan sangat menunjang efisiensi dan efektivitas proses
dan hasil pembelajaran.
Secara umum klasifikasi media dapat dijabarkan sebagai berikut:
Media yang Tidak Diproyeksiv
• Realia adalah benda nyata yang digunakan sebagai bahan ajar. Pemanfaatan
media tidak selalu di hadirkan dalam ruang kelas, tetapi dapat digunakan
sebagai suatu kegiatan observasi pada lingkungannya. Penggunaan realia dapat
diimodifikasi, menurut Heinich(1996) modifikasi pengguanaan realia dalam proses
pembelajaran dapat dilakukan dalam tiga cara, yaitu:
o Cutaways/potongan, adalah belahan atau potongan benda sebenarnya yang
digunakan untuk dapat melihat bagian dalam dari benda tersebut.
o Specimen/contoh , adalah bentuk media realia yang digunakan dalam bentuk asli
dari sebuah benda dalam jenis atau kelompoknya, misalnya kupu-kupu dalam
berbagai jenis. Umumnya Specimen tersebut di simpan dalam botol, kotak atau
tempat lain yang dapat di observasi.
o Exhibit/pameran, realia dapat ditampilkan dalam bentuk pameran yang dirancang
seolah berada dalam lingkungan atau situasi yang asli. Mislanya sejarah yang
ditampilkan dalam kondisi asli.
• Model
Model realia memiliki keterbatasan dalam penyediaanya, misalnya ukuran atau
biayanya. Alternatif pemanfaatan media yang menyerupai realia adalah model.
Menurut Brown(1985), model adalah benda nyata yang dimodifikasikan. Model dapat
berukuran lebih kecil, lebih besar, atau sam persis dengan benda aslinya dan
menampilkan wujud yang lengkap serta rinci yang disederhanakan untuk
mempermudah proses pembelaran.
• Bahan Grafis
Heinich(1996) menyebutkan beberapa media grafis antara lain:
o Gambar Diam, gambar didefinisikan sebagai representasi visual dari orang,
tempat ataupun benda yang diwujudkan diatas kanvas dan foto.
o Sketsa, yaitu gambar yang tidak lengkap dan sederhana, atau dapat dikatakan
sebagai gambar kasar yang menampilkan bagian pokok dan mengabaikan
bagian-bagian yang bersifat detail.
o Diagram, penggunaan diagram pada umumnya ditujukan untuk menunjukkan suatu
proses untuk meggambarkan suatu hubungan atau menjelaskan proses. Sebuah
diagram dikatakan baik apabila:
Benar, rapih, dan disertai dengan
keterangan yang jelas.§
Cukup besar dan ditempatkan di tempat
strategis§
Penyusunannya disesuaikan dengan pola
baca yang umum dari atas ke bawah atau dari kiri ke kanan.§
o Grafik, yaitu bahan-bahan nonfotografis dengan format dua dimensi yang
didesian khusus untuk mengkomunikasikan pesan dan informasi tertentu.
o Chart/bagan, digunakan untuk menyampaikan materi yang cukup sulit jika
disampaikan secara lisan maupun tulisan. Bagan merupakan media yang berisi
tentang gambar-gambar, keternagn-keterangan, dan sebagainya. Bagan digunakan
untuk memperagakan pokok-pokok isi bagan secara jelas dan sederhana antara
lain: perkembangan , perbandingan, strukrut, organisasi. Macammacam media bagan
adalah Tree Chart, Flow chart.
Ciri-ciri bagan sebagai media yang baik adalah:
• dapat dimengerti oleh pembaca
• sederhana dan lugas tidak rumit atau berbelit-belit
• diganti pada waktu-waktu tertentu agar selain tetap
mengikuti perkembangan jaman juga tidak kehilangan daya tarik
• Media Papan
Media bentuk papan yang diringkas di sini terdiri dari papan tulis, papan
tempel, papan flanel, dan papan magnet. Fungsi papan tulisadalah untuk
menuliskan pokok-pokok keterangan guru dan menuliskan rangkuman pelajaran dalam
bentuk ilustrasi, bagan, atau gambar.
Keuntungan mengunakan papan tulis adalah: dapat digunakan di segala jenis
tingkatan lembaga, mudah mengawasi keaktifan kelas, ekonomis, dapat dibalik.
Kekurangannya adalah: memungkinkan sukarnya mengawasi aktivitas murid, berdebu,
kurang menguntungkan bagi guru yang tulisannya jelek.
Papan tempel adalah sebilah papan yang fungsinya sebagai tempat untuk
menempelkan pesan dan suatu tempat untuk menyelenggarakan suatu display yang
merupakan bagian aktivitas penting suatu sekolah. Keuntungan menggunakan papan
tempel adalah: dapat menarik perhatian, memperluas pengertian anak, mendorong
kreativitas, menghemat waktu, membangkitkan rasa keindahan, dan memupuk rasa
tanggung jawab.
Kelemahan-kelemahannya adalah: sulit memantau apakah semua murid dapat
memperhatikan, kemungkinan terjadi gangguan kenakalan, membosankan jika terlalu
lama dipasang.
Tugas guru berkaitan dengan papan tempel adalah: membimbimbing daya cipta anak,
menyarankan ide-ide, memberikan petunjuk komposisi warna, memberikan penilaian.
Tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh siswa adalah: mencari atau membuat bahan
pelajaran, menentukan komposisi warna, memelihara penggunaan dan keutuhanya.
Papan flanel sering juga disebut sebagai visual board, adalah suatu papan yang
dilapisi kain flanel atau kain yang berbulu di mana padanya diletakan potongan
gambargambar atau simbul-simbul lain. Gambar-gambar atau simbul-simbul tersebut
biasanya disebut item papan flanel.
Kegunaan papan flanel adalah: dapat dipakai untuk jenis pelajaran apa saja,
dapat menerangkan perbandingan atau persamaan secara sistematis, dapat memupuk
siswa untuk belajar aktif. Keuntungan papan flanel adalah: dapat dibuatsendiri,
item-item dapat diatur sendiri, dapat dipersiapkan terlebih dahulu, item-item
dapat digunakan berkali-kali, memungkinkan penyesuaian dengan kebutuhan siswa,
menghemat waktu dan tenaga. Kelemahannya adalah: pada umumnya terletak pada
kurang persiapan dan kurang terampilnya para guru. Papan magnet lebih dikenal
sebagai white board atau magnetic board adalah sebilah papan yang dibuat dari
lapisan email putih pada sebidang logam, sehingga pada permukaannya dapat
ditempelkan benda-benda yang ringan dengan interaksi magnet.
Papan magnet memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai papan tulis dan sebagai papan
temple dan sebagai tempat memproyeksikan film atau slide. Keistimewaannya
adalah: alat tulisnya khusus, tidak terkena debu, lebih mudah
dipindah-pindahkan, meningkatkan perhatian dan semangat belajar siswa karena
tulisan yang lebih terang. Dibandingkan dengan papan flanel, papan magnet
memang lebih mahal. Namun kelebihannya adalah: daya rekat tempelan relatif
lebih kuat sebagai akibat interaksi magnetik, simbul-simbul dapat
dipindah-pindahkan tanpa mengangkat, lebih bergengsi.
Media yang Diproyeksiv
• OHT
Over Head Transparancy (OHT) adalah media visual proyeksi, dibuat di atas bahan
transparan, biasanya film acetate atau plastik berukuran 8,5 x 11 inchi. Media
ini memerlukan alat khusus untuk memproyeksikannya yang dikenal dengan sebutan
Over Head Projector (OHP). Beberapa keuntungan penggunaan OHT sebagai media
pembelajaran diantaranya adalah:
o gambar yang diproyeksikan lebih jelas bila dibandingkan jika
digambarkan di papan tulis
o ruangan tidak perlu digelapkan
o sambil mengajar, guru dapat berhadapan dengan siswa
o mudah dioperasikan sehingga tidak memerlukan bantuan
o operator
o menghemat tenaga dan waktu karena dapat dipakai
o berulang-ulang
o praktis dapat digunakan untuk semua ukuran kelas atau
o ruangan
• Opaque Projektor
Projektor yang tak tembus pandang, karena yang diproyeksikan bukan bahan
transparan tetapi bahan-bahan yang tidak tembus pandang (opaque). Kelebihan
media ini sebagai media pembelajaran adalah bahwa bahan cetak pada buku,
majalah, foto, grafis, bagan atau diagram dapat diproyeksikan secara langsung
tanpa dipindahkan ke permukaan transparansi terlebih dahulu. Kelebihan
projektor tak tembus pandang adalah:
o dapat digunakan untuk hampir semua bidang studi yang ada di kurikulum
o dapat memperbesar benda kecil menjadi sebesar papan sehingga bahan yang
semula hanya untuk individu menjadi untuk seluruh kelas
Media Audiov
o Radio
Radio merupakan perlengkapan elektronik yang dapat digunakan untuk mendengarkan
berita yang bagus dan aktual, dapat mengetahui beberapa kejadian dan
peristiwa-peristiwa penting dan baru, masalah-masalah kehidupan dan sebagainya.
Radio dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang cukup efektif.
o Kaset-audio
Yang dibahas disini khusus kaset audio yang sering digunakan di sekolah.
Keuntungannya adalah merupakan media yang ekonomis karena biaya pengadaan dan
perawatan murah.
VIII.5. Peran Media
Dalam proses pembelajaran media memiliki kontribusi dalam meningkatkan mutu dan
kualitas pengajaran. Kehadiran media tidak saja membantu pengajar dalam
menyampaikan materi ajarnya, tetapi memberikan nilai tambah pada kegiatan
pembelajaran. Hal ini berlaku bagi segala jenis media, baik yang canggih dan
mahal ataupun media yang sederhana dan murah. Kemp, dkk. (1985) menjabarkan
sejumlah kontribusi media dalam kegiatan pembelajaran antara lain :
• Penyajian materi ajar menjadi lebih standar.
• Kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.
• Kegiatan belajar dapat menjadi lebih interaktif
• Waktu yang dibutuhkan untuk pembelajaran dapat dikurangi.
• Kualitas belajar dapat ditingkatkan.
• Pembelajaran dapat disajikan di mana dan kapan saja sesuai yang diinginkan.
• Meningkatkan sifat positif peserta didik dan proses belajar menjadi lebih
kuat/baik.
• Memberikan nilai positif bagi pengajar.
Penjabaran tentang peranan media dalam pembelajaran yang dikemukakan oleh Kemp
memberikan wawasan yang luas mengenai pemanfaatan media dalam pembelajaran.
Selain Kemp (1985), Heinich et al. (1996) melihat kontribusi media dalam proses
pembelajaran secara lebih global ditinjau dari kondisi berlangsungnya proses
pembelajaran, seperti berikut :
o Proses pembelajaran yang bergantung pada kehadiran pengajar
Pada kondisi ini, penggunaan media dalam proses pembelajaran umumnya bersifat
sebagai pendukung bagi pengajar. Perancangan media yang tepat akan sangat
membantu menguatkan materi pembelajaran yang disampaikan oleh pengajar secara
langsung.
o Proses pembelajaran tanpa kehadiran pengajar
Ketidakhadiran pengajar dalam proses pembelajaran dapat disebabkan oleh tidak
tersedianya pengajar atau pengajar sedang bekerja dengan peserta didik lain.
Media dapat digunakan secara efektif pada pendidikan formal dimana pengajar
yang karena suatu hal tidak dapat hadir di kelas atau sedang bekerja dengan
peserta didik lain.
o Pendidikan jarak jauh
Pendidikan jarak jauh telah berkembang dengan cepat di seluruh dunia. Hal utama
yang membedakan antara pendidikan jarak jauh pendidikan dengan tatap muka
adalah adanya keterpisahan antara pengajar dan peserta didik dalam proses
pembelajarn. Media yang paling umum digunakan dalam pendidikan jarak jauh
adalah media cetak dengan menggunakan sistem korespondensi.
o Pendidikan khusus
Media memiliki peran yang penting dalam pendidikan bagi peserta didik yang
memiliki keterbatasan kemampuan, misalnya mereka yang memiliki keterbelakangan
mental, tuna netra atau tuna rungu. Media yang digunakan adalah jenis-jenis
media yang sesuai dan tepat bagi masing-masing keterbatasan.
VIII.6. Pemilihan Media
Media pada hakekatnya merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran.
Sebagai komponen, media hendaknya merupakan bagian integral dan harus sesuai
dengan proses pembelajaran secara menyeluruh. Ujung akhir dari pemilihan media
adalah penggunaaan media tersebut dalam kegiatan pembelajaran, sehingga
memungkinkan siswa dapat berinteraksi dengan media yang kita pilih.
pemilihan media itu perlu kita lakukan agar kita dapat menentukan media yang
terbaik, tepat dan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi sasaran didik. Untuk
itu, pemilihan jenis media harus dilakukan dengan prosedur yang benar, karena
begitu banyak jenis media dengan berbagai kelebihan dan kelemahan
masing-masing.
Anderson (1976) mengemukakan adanya dua pendekatan/ model dalam proses
pemilihan media pembelajan, yaitu: model pemilihan tertutup dan model pemilihan
terbuka.
Pemilihan tertutup terjadi apabila alternatif media telah ditentukan “dari
atas” (misalnya oleh Dinas Pendidikan), sehingga mau tidak mau jenis media
itulah yang harus dipakai. Kalau toh kita memilih, maka yang kita lakukan lebih
banyak ke arah pemilihan topik/ pokok bahasan mana yang cocok untuk dimediakan
pada jenis media tertentu. Misalnya saja, telah ditetapkan bahwa media yang
digunakan adalah media audio. Dalam situasi demikian, bukanlah mempertanyakan
mengapa media audio yang digunakan, dan bukan media lain? Jadi yang harus kita
lakukan adalah memilih topik-topik apa saja yang tepat untuk disajikan melalui
media audio. Untuk model pemilihan terbuka, lebih rumit lagi.
Model pemilihan terbuka merupakan kebalikan dari pemilihan tertutup. Artinya,
kita masih bebas memilih jenis media apa saja yang sesuai dengan kebutuhan
kita. Alternatif media masih terbuka luas. Proses pemilihan terbuka lebih luwes
sifatnya karena benar-benar kita sesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi yang
ada. Namun proses pemilihan terbuka ini menuntut kemampuan dan keterampilan
guru untuk melakukan proses pemilihan. Seorang guru kadang bisa melakukan
pemilihan media dengan mengkombinasikan antara pemilihan terbuka dengan
pemilihan tertutup.
Kriteria Pemilihan Mediav
Memilih media hendaknya tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan
didasarkan atas kriteria tertentu. Kesalahan pada saat pemilihan, baik
pemilihan jenis media maupun pemilihan topik yang dimediakan, akan membawa
akibat panjang yang tidak kita inginkan di kemudian hari. Banyak pertanyaan
yang harus kita jawab sebelum kita menentukan pilihan media tertentu. Secara
umum, kriteria yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan media pembelajaran
diuraikan sebagai berikut.
1) Tujuan
Apa tujuan pembelajaran (TPU dan TPK ) atau kompetensi yang ingin dicapai?
Apakah tujuan itu masuk kawasan kognitif, afektif , psikhomotor atau
kombinasinya? Jenis rangsangan indera apa yang ditekankan: apakah penglihatan,
pendengaran, atau kombinasinya? Jika visual, apakah perlu gerakan atau cukup
visual diam? Jawaban atas pertanyaan itu akan mengarahkan kita pada jenis media
tertentu, apakah media realia, audio, visual diam, visual gerak, audio visual
gerak dan seterusnya.
2) Sasaran didik
Siapakah sasaran didik yang akan menggunakan media? bagaimana karakteristik
mereka, berapa jumlahnya, bagaimana latar belakang sosialnya, apakah ada yang
berkelainan, bagaimana motivasi dan minat belajarnya? dan seterusnya. Apabila
kita mengabaikan kriteria ini, maka media yang kita pilih atau kita buat tentu
tak akan banyak gunanya. Mengapa? Karena pada akhirnya sasaran inilah yang akan
mengambil manfaat dari media pilihan kita itu. Oleh karena itu, media harus
sesuai benar dengan kondisi mereka.
3) Karateristik media yang bersangkutan
Bagaimana karakteristik media tersebut? Apa kelebihan dan kelemahannya,
sesuaikah media yang akan kita pilih itu dengan tujuan yang akan dicapai? Kita
tidak akan dapat memilih media dengan baik jika kita tidak mengenal dengan baik
karakteristik masing-masing media. Karena kegiatan memilih pada dasarnya adalah
kegiatan membandingkan satu sama lain, mana yang lebih baik dan lebih sesuai
dibanding yang lain. Oleh karena itu, sebelum menentukan jenis media tertentu,
pahami dengan baik bagaimana karaktristik media tersebut.
4) Waktu
Yang dimaksud waktu di sini adalah berapa lama waktu yang diperlukan untuk
mengadakan atau membuat media yang akan kita pilih, serta berapa lama waktu
yang tersedia / yang kita memiliki, cukupkah ? Pertanyaan lain adalah, berapa
lama waktu yang diperlukan untuk menyajikan media tersebut dan berapa lama
alokasi waktu yang tersedia dalam proses pembelajaran ? Tak ada gunanya kita
memilih media yang baik, tetapi kita tidak cukup waktu untuk mengadakannya.
Jangan sampai pula terjadi, media yang telah kita buat dengan menyita banyak
waktu, tetapi pada saat digunakan dalam pembelajran ternyata kita kekurangan
waktu.
5) Biaya
Faktor biaya juga merupakan pertanyaan penentu dalam memilih media. Bukankah
penggunaan media pada dasarnya dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi dan
efektifitas pembelajaran. Apalah artinya kita menggunakan media, jika akibatnya
justru pemborosan. Oleh sebab itu, faktor biaya menjadi kriteria yang harus
kita pertimbangkan. Berapa biaya yang kita perlukan untuk membuat, membeli atau
meyewa media tersebut? Bisakah kita mengusahakan beaya tersebut/ apakah
besarnya biaya seimbang dengan tujuan belajar yang hendak dicapai? Tidak
mungkinkan tujuan belajar itu tetap dapat dicapai tanpa menggunakan media itu,
adakah alternatif media lain yang lebih murah namun tetap dapat mencapai tujuan
belajar? Media yang mahal, belum tentu lebih efektif untuk mencapai tujuan
belajar, dibanding media sederhana yang murah.
6) Ketersediaan
Kemudahan dalam memperoleh media juga menjadi pertimbangan kita. Adakah media
yang kita butuhkan itu di sekitar kita, di sekolah atau di pasaran ? Kalau kita
harus membuatnya sendiri, adakah kemampuan, waktu tenaga dan sarana untuk
membuatnya? Kalau semua itu ada, petanyaan berikutnya tersediakah sarana yang
diperlukan untuk menyajikannya di kelas? Misalnya, untuk menjelaskan tentang
proses tejadinya gerhana matahari memang akan lebih efektif jika disajikan
melalui media video. Namun karena di sekolah tidak ada aliran listrik atau
tidak punya video player, maka sudah cukup bila digunakan alat peraga gerhana
matahari.
7) Konteks penggunaan
Konteks penggunaan maksudnya adalah dalam kondisi dan strategi bagaimana media
tersebut akan digunakan. Misalnya: apakah untuk belajar individual, kelompok
kecil, kelompok besar atau masal ? Dalam hal ini kita perlu merencanakan
strategi pembelajaran secara keseluruhan yang akan kita gunakan dalam proses
pembelajaran, sehingga tergambar kapan dan bagaimana konteks penggunaaan media
tersebut dalam pembelajaran.
Mutu Teknis
Kriteria ini terutama untuk memilih/membeli media siap pakai yang telah ada,
misalnya program audio, video, garafis atau media cetak lain. Bagaimana mutu
teknis media tersebut, apakah visualnya jelas, menarik dan cocok ? Apakah
suaranya jelas dan enak didengar ? Jangan sampai hanya karena keinginan kita
untuk menggunakan media saja, lantas media yang kurang bermutu kita paksakan
penggunaannya. Perlu diinggat bahwa jika program media itu hanya menjajikan
sesuatu yang sebenarnya bisa dilakukan oleh guru dengan lebih baik, maka media
itu tidak perlu lagi kita gunakan.
Prinsip-prinsip Pemilihan Media
Pembelajaranv
Pemilihan media merupakan keputusan yang menarik dan menentukan terhadap
ketepatan jenis media yang akan digunakan, yang selanjutnya sangat mempengaruhi
efektvitas dan efisiensi proses pembelajaran. Dalam menentukan ketepatan media
yang akan dipersiapkan dan digunakan melakui proses pengam-bilan keputusan
adalah berhubungan dengan kemampuan yang dimiliki oleh me¬dia termasuk
kelebihan dari karakteristik media yang bersangkutan dihubungkan dengan
berbagai komponen pembelajaran. Belum tentu jenis media yang mahal, yang lebih
modern, yang lebih serba maju akan mendukung terciptanya pembela-jaran yang
efektv dan efisien . Sebaliknya jenis media sederhana, harganya murah, mudah
dibuat atau mudah didapat mungkin lebih efektif dan efisien diban¬ding yang
lebih modern tersebut Begitu juga posisi media dalam pola pembela¬jaran yang
akan dilaksanakan sangat mempengaruhi keteptan jenis media yang akan digunakan.
Sebelum melakukan proses pemilihan media ada beberapa prinsip yang ha¬rus
diperhatikan.
• Adanya kejelasan tentang maksud dan tujuan pemilihan media tersebut
Tujuan pemilihan media harus dihubungkan dengan tujuan dari penggunaan media.
Tujuan penggunaan media dapat bermacam-macam, seperti se¬kedar pengisi waktu,
untuk hiburan, untuk informasi umum, untuk pembelajar¬an. Jika tujuan
pemilihannya selain bukan pembelajaran, sebetulnya bukan tugas utama teknolog
pendidikan. Tetapi kita harus mampu untuk melaksana¬kannya. Jika tujuan
pemilihannya untuk pembelajaran harus dilihat peranan¬nya apakah sebagai alat
bantu, sebagai pendamping guru, atau sebagai media untuk pembelajaran
individual atau kombinasi dari semuanya itu.
Di samping itu jika tujuannya untuk media pembelajaran apakah untuk mencapai
tujuan kognitif, afektif atau psikomotor termasuk yang harus diper-hatikan
masing-masing dari aspek tujuan tersebut.
Yang harus diperhatikan dalam mempertimbangkan sebagai media pembelajaran
apakah untuk sasaran individu, kelompok, atau klasikal, atau untuk sasaran
tertentu, misalnya anak balita, orang dewasa, masyarakat petani, orang buta,
orang tuli, dan sebagainya.
• Adanya familiaritas media
Istilah familiaritas berasal dari famili atau keluarga artinya mengenal utuh
tentang media yang akan dipilih. Setiap jenis media mempunyai sifat dan
karakteristik yang berbeda satu sama lain. Jika dihubungkan karakteristik
setiap media tersebut terhadap komponen pembelajaran akan mempunyai
konseku¬ensi yang berbeda. Misalnya dihubungkan dengan tujuan pembelajaran
media tertentu secara efektif dan efisien dapat mencapai tujuan kognitif tetapi
media tertentu yang lain tidak bisa secara efektif. Begitu juga untuk tujuan
afektif dan psikomotor ada beberapa media yang dapat digunakan untuk mencapai
tujuan tersebut secara efisien dan efeklif ada juga yang tidak. Jika
dihubungkan de¬ngan sasaran belajar, ada yang bisa secara efisien dan efektif
untuk individu, kelompok, klasikal tetapi ada juga yang tidak. Jika dihubungkan
dengan isi pe¬san yang dipelajari, ada media yang dapat digunakan untuk
menyajikan pesan yang bersifat faktual, konsep, prinsip, prosedur, atau sikap,
tetapi ada juga yang tidak.
Oleh karena itu sebagai teknolog pendidikan harus mengenal betul sifat dan
karakteristik dari masing-masing media tersebut agar media yang akan dipilih
betul-betul tepat sesuai dengan yang dibutuhkan dalam kegiatan pembela¬jaran.
• Ada sejumlah media pembelajaran yang dapat dipilih atau diperbandingkan
Sekalipun telah dikenal betul tentang sifat dan karakteristik dari berbagai
macam media, tidak akan ada gunanya jika tidak tersedia sejumlah media yang
akan dipilih. Karena pada hakekatnya pemilihan adalah proses pengambilan
keputusan untuk menetapkan media yang paling cocok dipakai untuk kegiatan
pembelajaran, berarti harus terdapat sejumlah media yang diperbandingkan.
Begitu juga jika jenis media yang diperbandingkan terbatas maka jenis media
yang ditetapkan untuk digunakan juga terbatas apa adanya.
• Ada sejumlah kriteria atau norma yang dipakai dalam proses pemilihan
Prinsip ini merupakan hal yang terpenting dalam proses pemilihan karena akan
dipakai dan digunakan serta menentukan jenis media yang ditentukan. Sejumlah
kriteria atau norma yang dikembangkan harus disesuaikan dengan keterbatasan
kondisi setempat mulai dari tujuan yang ingin dicapai, fasilitas, tenaga maupun
dana, dampak kemudahan yang diperolehnya serta efisiensi dan efektivitasnya.
Penyesuaian dengan keterbatasan kondisi setempat bukan menghilangkan idealisasi
norma, tetapi dimaksudkan apakah memungkinkan untuk dilaksanakan atau tidak.
Karena itu jumlah dan kedetailan norma atau kriteria yang dikembangkan untuk
lembaga satu dengan lembaga yang lain bisa berbeda.
Selain itu sebelum mengembangkan kriteria dan melaksanakan pemilihan media
harus diketahui jenis media yang akan dipilih apakah termasuk media by design
ataukah by utilization. Karena konsekuensi dan jenis media tersebut berdampak
pada penentuan kriteria atau norma yang dipakai. Media by utilization yang
dimaksud adalah media yang telah tersedia secara umum dan banyak di lapangan
atau di pasaran, tinggal menyesuaikan untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran.
Sedangkan yang dimaksud dengan media by design ada¬lah media yang sengaja
dirancang dan dikembangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Karena
itu proses dan kriteria pemilihan yang dipakai tentunya berbeda.
Prosedur pemilihan Media pembelajaranv
Untuk jenis media rancangan (by design), beberapa macam cara telah dikembangkan
untuk memilih media. Dalam proses pemilihan ini, Anderson (1976) mengemukakan
prosedur pemilihan media menggunakan pendekatan flowchart (diagram alur). Dalam
proses tersebut ia mengemukan beberapa langkah dalam pemilihan dan penentuan
jenis penentuan media, yaitu :
Menentukan apakah pesan yang akan kita
sampaikan melalui media§ termasuk pesan pembelajaran atau
hanya sekedar informasi umum / hiburan. Jika hanya sekedar informasi umum akan
diabaikan karena prosedur yang dikembangkan khusus untuk pemilihan media yang
bersifat / untuk keperluan pembelajaran.
Menentukan apakah media itu dirancang
untuk keperluan pembelajaran§ atau hanya sekedar alat bantu
mengajar bagi guru (alat peraga). Jika sekedar alat peraga, proses juga
dihentikan ( diabaikan).
Menentukan apakah tujuan pembelajaran
lebih bersifat kognitif, afektif atau psikomotor.§
Menentukan jenis media yang sesuai untuk
jenis tujuan yang akan§ dicapai, dengan mempertimbangkan
kriteria lain seperti kebijakan, fasilitas yang tersedia, kemampuan produksi
dan beaya.
Mereview kembali jenis media yang telah
dipilih, apakah sudah tepat§ atau masih terdapat kelemahan, atau
masih ada alternatif jenis media lain yang lebih tepat.
Merencanakan, mengembangkan dan
memproduksi media.§
Pendekatan lain yang dapat digunakan dalam memilih media adalah pendekatan
secara matrik. Salah satu dari pendekatan ini adalah yang dikemukakan oleh
Alen. Matrik ini memberikan petunjuk yang dapat dijadikan pertimbangan dalam
memilih media yang sesuai dengan jenis tujuan pembelajaran tertentu. Ia
menggambarkan tinggi rendahnya kemampuan setiap jenis media bagi pencapaian
berbagai tujuan belajar sebagai berikut :
• Matrik kemampuan setiap jenis media dalam mempengaruhi berbagai jenis belajar
Untuk menggunakan matrik di atas, terlebih dahulu kita mempelajari jenis
belajar mana yang akan dipelajari / harus dikuasai siswa, apakah informasi
faktual, konsep, keterampilan dan seterusnya. Setelah itu, kita bisa memilih
jenis media yang sesuai dengan jenis belajar tersebut. Caranya dengan melihat
dalam kolom yang yang berlabel “tinggi “ yang tertera di bawah kolom jenis
belajar. Selanjutnya kita lihat secara horizontal ke kolom paling kiri untuk
memperoleh petunjuk jenis media mana yang sebaiknya kita pilih. Jika media
tersebut ternyata tidak tersedia, atau tidak mungkin disediakan kareana mahal,
tidak praktis, atau tidak sesuai dengan kondisi siswa, dengan cara yang
samamaka pilihan kita beralih pada jenis media yang berlabel “ “sedang”. Ini
berati kita telah memilih jenis media “terbaik kedua”, bukan yang terbaik.
Sekali lagi, pertimbangan utama dalam memilih media adalah keseuaian media
tersebut dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai oleh siswa. Jika terdapat
beberapa jenis media yang sama sama baik dan sesuai, maka prioritas kita adalah
memilih jenis media yang murah, lebih praktis dan yang telah tersedia di
sekitar kita.
BAB IX
USAHA-USAHA PENGEMBANGAN GURU SEBAGAI TENAGA PENDIDIK
Guru sebagai tenaga pendidik, harus ada usaha untuk
menjadikannya berkembang sesuai pekembangan zaman yang semakin maju.
Usaha-usaha itu adalah:
IX.1. Program Pre-service Education
Usaha pengembangan guru yang dilakukan sebelum seseorang menduduki jabatan/
menjadi seorang guru. Misalnya PGSD dan FKIP.
Selama program pre-service education , seoarang calon guru akan belajar
bagaimana menggunakan pengetahuan mereka untuk menyusun rencana pembelajaran
untuk mengajar di kelas. Topik umum meliputi manajemen kelas, rencana
pelajaran, dan pengembangan profesional. Fokus utama selama program pendidikan
tersebut adalah praktikum dimana guru pre-service ditempatkan dalam setting
sekolah (baik SD, atau senior) dan bayangan seorang guru berpengalaman. Disini
seoarang calon guru akan diberikan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan
melalui rencana pelajaran, mengajar pelajaran dan manajemen kelas.
IX.2. Program In-service Education
Program in service education adalah program pengajaran atau pelatihan yang
disediakan oleh badan atau lembaga untuk karyawannya. Program ini diadakan di
lembaga atau instansi dan dimaksudkan untuk meningkatkan keterampilan dan
kompetensi karyawan di bidang tertentu.
Di dunia pendidikan, program ini dijalani bagi guru yang memiliki jabatan
dengan melanjutkan pendidikan.
Good Carter(1945:103) menyatakan in service education adalah suatu usaha member
kesempatan kepada guru-guru untuk mendapatkan penyegaran atau menurut istilah
Jacobson sebagai penyegaran yang membawa guru-guru kearah up to date.
IX.3. Program In-service Training
Pelatihan pendidikan bagi guru untuk membantu mereka mengembangkan ketrampilan
mereka dalam disiplin khusus bidang keguruan. Pelatihan terjadi setelah seorang
individu sudah menjadi seorang guru. Kebanyakan biasanya, in-service training
dilakukan selama istirahat dalam jadwal kerja individu.
Kelebihan dari program ini adalah Peserta pelatihan dapat menarik dari
pengalaman kerja mereka
Sedangkan kekurangannya adalah para guru akan terganggu kegiatan mengajarnya
selama mengikuti program ini.
Berikut adalah beberapa situasi di mana in-service training dapat dilaksanakan
dengan tepat:
• Trainer perlu pengalaman praktis sebelum mereka bisa atau akan mendapatkan
keuntungan dari pelatihan dimaksud.
• Jika tugas yang cukup kompleks, trainee mungkin perlu diulang pelatihan
sehingga mereka tahu bagaimana melakukan tugas dengan benar;
• Jika pengawasan sedikit atau tidak tersedia, pelatihan in-service dapat
membantu mengisi kebutuhan ini.
• Memperkenalkan material baru atau metode kepada orang-orang berpengalaman
dengan tugas.
Contoh dari program ini adalah penataran, seminar, work shop dan sebagainya.
Ada tiga macam penataran:
o Penataran penyegaran, yaitu usaha peninkatan keampuan guru agar sesuai dengan
kemajuan IPTEK serta pemantapan tenaga kependidikan agar dapat melaksanakan
tugas sehari-harinya dengan lebih baik.
o Penataran peningkatan kualifikasi, yaitu usaha meningkatkan kemampuan guru
sehingga mereka memperoleh kualifikasi formal tertentu sesuai standar yang
ditentukan.
o Penataran penjenjangan, yaitu suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan guru
ssehingga dipenuhi persyaratan suatu pangkat atau jabatan tertentu sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
o
• Strategi Pengembangan Profesi Guru(strategi datang dan pergi)
Strategi datang(come structure), yaitu para peserta datang dari berbagai daerah
ke ibu kota kabupaten, kotamadya atau ibu kota RI(Jakarta) untuk mengikuti
kegiatan pengembangan profesi mereka.
Strategi pergi(go structure), yaitu program pengembangan profesi yang
mendatangkan penatar/fasilitator/narasumber dari pusat ke daerah-daerah.
• Dasar Pengembangan Profesi Guru
Sebagai suatu profesi, guru harus berkembang sesuai dengan persyaratan profesionalnya.
Karena profesi guru memberikan layanan kepada masyarakat dan anak didik, maka
diperlukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap serta kemampuan yang selalu
berkembang. Adapun dasar yang digunakan mengapa profesi keguruan harus
dikembangkan adalah :
1. Dasar Filosofis
Guru pada hakekatnya adalah pendidik yang bertugas sebagai pemimpin atau
pelayan (agogos). Sebagai pemimpin dan pelayan, guru harus dapat memberikan
layanan kepada masyarakat dan anak didik sebaik-baiknya. Sementara tuntutan
jaman dan tuntutan anak didik selalu berkembang dari waktu ke waktu. Untuk itu
profesi guru harus selalu dikembangkan agar tidak tertinggal dari kemajuan
zaman.
2. Dasar Psikologis
Guru selalu berhadapan dengan individu lain yang memiliki keunikan dan kekhasan
masing-masing. Setiap individu memiliki pikiran, perasaan, kehendak, keinginan,
fantasi, inteligensi, cita-cita, instink, perangai, dan performansi yang
berbeda dengan individu lain. Jika guru tidak selalu meningkatkan pemahaman
terhadap individu lain (anak didik), maka ia tidak akan dapat menerapkan
strategi pelayanannya sesuai dengan keunikan anak didik. Di sinilah pentingnya
guru mengembangkan pemahaman aspek psikologis individu lain.
3. Dasar Pendagogis
Tugas profesional utama guru adalah mendidik dan mengajar. Untuk dapat
menjalankan tugas mendidik dan mengajar dengan baik, guru harus selalu membina
diri untuk mengetahui dan menerapkan strategi mengajar baru, metode baru,
teknik-teknik mendidik yang baru, menciptakan suasana pembelajaran yang
bervariasi, dan kemampuan mengelola kelas dengan baik. Guru yang tidak
mengembangkan kemampuan pembelajarannya selalu menerapkan cara pembelajaran
yang telah puluhan tahun digunakan, dan sudah ketinggalan jaman. Guru akan
selalu mengikuti perkembangan inovasi di bidang metode pembelajaran.
4. Dasar Ilmiah
Ilmu pengetahuan, teknologi dan seni selalu berkembang dengan pesat. Guru harus
dapat mengembangkan cara berpikir ilmiah agar dapat selalu mengikuti
perkembangan IPTEKS tersebut. Dalam melaksanakan tugas sehari-hari prinsip-prinsip
ilmiah selalu dipegang teguh, agr tercipta keadilan dan keobjektifan dalam
menyikapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini. Penggunaan sumber
belajar yang monoton dan ketinggalan jaman harus dihindarkan. Salah satu ciri
orang ilmiah adalah adanya rasa ingin tahu yang besar terhadap IPTEKS yang
ditekuninya.
5. Dasar Sosiologis
Masyarakat modern dewasa ini menuntut guru untuk melakukan hubungan dengan
orang, organisasi dan masyarakat dengan cara-cara modern juga. Profesi guru
dituntut untuk selalu dikembangkan mengikuti teknik-teknik komunikasi lisan dan
tertulis melalui media grafis, media massa, media elektronik, media
organisatoris, dan media proses kelompok yang serba canggih harus dikenal dan
diterapkan dalam proses mendidik. Guru harus pandai-pandai mengadakan hubungan
sosial dengan mendayagunakan sarana dan media yang berkembang begitu pesat ini.
Hal inilah yang mengharuskan profesi guru dikembangkan.